Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Yakobus 3:13.
Hikmat dan akal budi yang benar adalah hikmat dan akal budi yang kita peroleh dari Tuhan. Sebab Tuhanlah sumber dari segala hikmat dan akal budi manusia. Hikmat dan akal budi manusia terbatas namun hikmat dan akal budi dari Tuhan tidak terbatas. Maka kita harus bergantung kepada-Nya.
Begitu banyak orang yang ingin disebut sebagai orang berhikmat dan berakal budi namun mereka tidak mau menyandarkan hidup mereka kepada Tuhan sehingga pada satu titik mereka mengalami jalan buntu, mereka kecewa, stress dan putus harapan karena hanya bersandarkan pada kekuatan diri. Ingat sehebat apapun kita, kita manusia yang terbatas dan memerlukan Tuhan yang tidak terbatas. Hikmat dan akal budi dari Tuhan tidak pernah habis dan kering, ia bagaikan mata air yang terus mengalir dan yang terus kita butuhkan sepanjang hidup kita.
Yakobus 1:5-6, berkata “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombangambingkan kian ke mari oleh angin.
Banyak orang ingin dianggap pintar dan terpelajar. Namun hal itu tidak cukup bermodalkan ijasah dan nilai akademis diruang kuliah. Apalagi hanya bermodalkan fasih lidah. Perlu adanya keselarasan antara pikiran dan perbuatan – hikmat dan kelemahlemnutan. Bukti nyata bahwa orang itu sungguh bijak dan berbudi adalah bagaimana ia dapat memperlakukan orang lain dengan sikap baik dan benar. Bagaimana ia memperlakukan keluarganya? Bagaimana ia memperlakukan karyawannya? Bagaimana ia bersikap terhadap bosnya? Bila ada bos yang bertindak kasar dan penuh dengan caci maki maka sebetulnya nampak sekali bahwa ia tidak berhikmat dan berbudi.
Dan hidup orang yang berhikmat dan berbudi tidak dipenuhi dengan topeng, perasaan iri hati, dengki dan mementingkan diri sendiri, atau pun penuh dusta. Orang berhikmat dan berbudi tidak mau menyusahkan dan merugikan orang lain. Orang berhikmat dan berbudi tidak bersikap manipulatif dan merendahkan orang lain. Orang berhikmat dan berbudi berani peduli dan merendahkan diri .
Orang berhikmat sejatinya ia berani turun dari tahta kemuliaan diri. Ia mengakui kebesaran Ilahi dan keterbatasan diri. Ia memerlukan belaskasihan Tuhan dan hidup berelasi dengan sesama sehingga dengan ketulusan hati berbuat baik dalam kehidupan nyata. Amin.
Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin



