“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Yakobus 2:14.
Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati dan kosong adanya. Meskipun kita tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman di dalam Kristus Yesus, tetapi iman kita bukanlah iman yang kosong atau mati. Sebab iman yang sejati tidak berdiri tunggal namun iman yang berisi, yaitu ada rasa dan buahnya. Sebab apa gunanya engkau mengaku beriman tanpa ada buah pertobatan, buah perbuatan dan ketaatan pada kehendak Tuhan.
Itu sama seperti seorang yang tahu bahwa saudaranya membutuhkan pakaian, namun ia tidak pernah memberikannya. Padahal orang itu sangat perlu dan membutuhkan. Ia pintar menyarankan bahwa, “Kenakan kain panas dan makanlah sampai kenyang” namun apa yang dipunyainya tidak pernah ia berikan. Orang yang tidak punya pakaian, tidak perlu kita sarankan memakai pakaian sebab ia pasti ia akan mengenakannya jika ia punya. Orang yang tidak punya sepatu, baju, ikat pinggang dan tas baru, ia tidak perlu kita sarankan memakai semuanya itu.
Sebab kalau ia punya maka dengan sendirinya ia akan memakainya. Namun kalau tidak punya apa yang mau dipakai? Maka saran kita pun tidak berguna kalau kita tidak berbuat. Maka orang yang tidak punya makanan tidak perlu suruh-suruh untuk makan, kalau ia punya makanan maka ia pasti akan makan dengan sendirinya. Yang kelewatan adalah kita yang punya makanan tidak mau berbagi sedikit pun dengan orang yang membutuhkan. Kadang-kadang makanan kita limpah dan tersisa namun karena pelitnya kita, kita tidak mau berbagi dengan orang orang yang memerlukan.
Maka, bernarlah kata Yakobus “Jikalau padamu ada iman, maka tidak mungkin tidak ada perbuatan.” Karena iman dan perbuatan selalu seiring sejalan. Mereka satu paket yang tak terpisahkan. Bagaikan mata uang yang memiliki dua sisi yang saling mengisi dan melengkapi. Tanpa ada yang satu, tidak lengkap yang lainnya. Bila keduanya ada maka menjadi penuh makna dan mendatangkan bahagia. Itu sama seperti kita percaya hanya satu Allah saja, dan setan-setan pun percaya bahwa Allah ada satu dan bahkan setan gemetar.
Namun yang membuat setan-setan itu dibuang dari hadapan Allah bukan karena mereka tidak percaya Allah itu ada, tetapi karena mereka tidak melakukan kehendak Allah. Ia beriman dan tahu bahwa Allah ada namun ia tidak mau melakukan kehendak Bapa di surga. Jadi apalah artinya iman bila tak disertai ketaatan dan perbuatan yang memuliakan nama Nya.
Jadi iman yang hidup dan sejati bukan hanya percaya bahwa Allah ada, namun iman yang buahnya ada, nyata dan terasa. Inilah yang membedakan antara iman yang sungguh sungguh dan iman yang palsu. Maka pohon dikenal dari buahnya, dan manusia beriman dikenal dari perbuatannya. Sebab iman yang baik menghasilkan perbuatan yang baik, doktrin yang baik menghasilkan cara hidup yang baik, ajaran yang baik menghasilkan kehidupan.
Jadi sebetulnya kita tidak perlu berkoar-koar tentang betapa berimannya kita kepada Tuhan dan betapa hebatnya doktrin kita, karena perbuatan kitalah yang akan mengisahkannya secara nyata bahwa kita memang betul ada di sana dan kita telah menghidupinya.
Renungan oleh Pdt. Nikodemus Rindin



