Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Roma 12:9.
Salah satu buah Roh Kudus yang muncul pertama kali dalam kehidupan orang percaya adalah kasih. Jemaat mulamula yang dipenuhi Roh Kudus, kehidupan mereka dipenuhi dengan kasih sehingga ada kerinduan dan semangat untuk peduli dan berbagi kepada sesama. Hal itu berbeda sekali dengan kehidupan dan semangat orang percaya masa kini yang terkesan hanya mementingkan diri, yang katanya rajin ke gereja, berdoa dan membaca Alkitab bahkan rajin melayani namun bukti nyata tak nampak nyata disana. Kasih adalah ilmu terbesar diseluruh alam semesta. Dan kasih adalah hal yang paling dibutuhkan oleh seluruh umat manusia. Maka Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia karena besarnya kasih-Nya kepada kita.
Dalam mengasihi, kita tidak boleh pura-pura, penuh kepalsuan atau hanya berbahasa rohani belaka tanpa maksud mulia di sana. Artinya kasih itu jangan hanya sekadar mulut manis tanpa action apalagi hanya sekedar retorika. Kita menyebut diri mengasihi Tuhan, beribadah tidak mau, membaca Alkitab tidak mau, berdoa tidak mau, melakukan dosa jalan terus maka apa yang kita disebut mengasihi Tuhan? Kita menyebut diri mengasihi sesama namun melayani mereka tidak mau, memberi tidak mau, berkorban tidak mau, apa wujud nyata mengasihi sesama itu? Bagaimana kita memperlakukan orang tua kita, bagaimana kita memperlakukan anak, istri, suami dan saudara kita? Bila tidak ada wujudnya dan buktinya berarti kasih kita itu hanyalah pura-pura saja.
Selalu ingat bahwa orang tidak tertarik dengan seribu bahasa yang indah yang keluar dari mulut kita, karena orang akan tertarik dengan satu perbuatan dalam tindakan nyata. Maka sebelum kita berpikir untuk pergi mengasihi dan melayani dunia ini, maka pulanglah lebih dahulu ke rumah kita dan kasihilah mereka dengan kasih yang segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Mari kita memberikan rasa dirumah dimana kita ada dan buatlah mereka bahagia. Jangan hadir dengan rasa tawar dan hampa. Jangan membuat mereka menderita karena kepurapuraan kita. Cinta atau kasih adalah kata yang sangat indah, namun untuk membuatnya terasa dan penuh makna maka perlu pengorbanan di sana.
Allah mengasihi manusia dengan kasih yang besar. Itu yang dikatakan dalam Yohanes 3:16. Namun kasih-Nya, dibuktikan melalui mengutus Anak-Nya yang Tunggal, sehingga Yesus datang ke dalam dunia, mengambil rupa seorang hamba, tandanya jelas Ia mau turun dari surga, melayani dan mati dikayu salib sebagai orang yang terkutuk karena menggantikan penghukuman dosa kita. Dia yang tidak berdosa telah menjadi berdosa karena kita. Dia yang benar menjadi tidak benar karena kita supaya kita disucikan dan diselamatkan serta mengalami penebusan dan persekutuan yang kekal dengan Allah Bapa di surga.
Jadi kasih Allah dibuktikan secara totalitas dalam tindakan nyata dalam suatu pengorbanan-Nya yang besar sampai tidak tersisa. Jadi kasih-Nya begitu suci, serius dan murni. Melalui bukti itu kita mengerti bahwa Allah sungguhsungguh mengasihi kita, tidak berpura-pura. Maka dalam 1 Yohanes 3:18, dikatakan “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Jadi, jika kita sungguh mempunyai kasih maka buktikanlah dalam kehidupan seharihari kita kepada sesama disekitar kita. Sebab tak cukup seribu bahasa, namun diperlukan tindakan yang nyata.
Jemaat mula-mula adalah contoh hidup dalam mengasihi. Mereka mempraktekkan dengan bersekutu, berbagi dan peduli. Mereka yang punya rela menjual harta bendanya demi dapat berbagi kepada mereka yang tidak punya. Jadi kerinduan itu, muncul dari dalam hati yang penuh dengan kasih. Ada suatu perasaan tidak tega dan tidak rela bila melihat orang lain menderita dan diri mereka sendiri bahagia. Mereka ingin orang yang menderita itu dapat ikut merasakan kebahagian yang mereka alami. Atau setidaknya adanya suatu rasa sepenanggungan dan seperjuangan di dalam Tuhan.
Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin



