Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Filipi 1:20

Apa yang menjadi kerinduan dan harapan kita dalam hidup ini? Apakah kita hanya ingin umur panjang, kaya raya, terkenal, terhormat, sukses dan hidup berlimpah-limpah? Tentu mendapatkan hal semacam itu tidak salah namun perlu diingat bahwa hal itu bukanlah segalanya. Karena semua itu bisa habis dalam sekejap mata. Dan tidak dapat kita genggam bila kita beranjak dari dunia. Yang harus kita kejar dan menjadi tujuan tertinggi hidup kita adalah bagaimana mempermuliakan Kristus dengan nyata melalui tubuh kita ini. Baik oleh hidup kita maupun oleh mati kita. Artinya seluruh hidup kita harus menampilkan Kristus dan dipenuhi oleh Kristus lalu dipakai untuk kemuliaan Kristus selama-lamanya.

Ada orang yang awal-awal percaya kepada Tuhan sangat semangat, taat, saleh, bergiat, rajin dan setia beribadah, melayani membaca firman, dan rajin berdoa namun ketika mendapatkan berkat, pasangan, momongan, posisi dan jabatan lalu dia menjauh dari Tuhan, meninggalkan Tuhan dan melupakan Tuhan bahkan hidup dalam dosa.

Sebab harusnya respon yang benar terhadap berkat Tuhan adalah kita makin dekat dan taat pada Tuhan Sang sumber berkat sebagai tanda kasih dan ucapan syukur kita kepada-Nya. Bukan malah menjauh dan melupakan-Nya. Bila setelah mendapatkan berkat kita menjauh, berarti sebetulnya bahwa kita hanya membutuhkan berkat-berkat Tuhan saja dan bukan Tuhan itu sendiri. Kita hanya memperalat Tuhan untuk tujuan kita. Sebab yang kita kejar bukan Tuhan, tetapi berkat-Nya.

Banyak dari kita bekerja, melayani, berbisnis, berkeluarga dan studi hanya fokus mengejar berkat-berkat Tuhan, bukan Tuhan. Ingat, berkat bukanlah segalanya, berkat hanyalah alat saja, yang kita pakai untuk memuliakan Tuhan.

Ketika saya melayani di Pontianak, ada seorang muda yang datang kepada saya dan berkata bahwa akhir-akhir ini dia sudah kendor dalam Tuhan. Waktu itu saya berkhotbah tentang kasih Kristus yang totalitas menyerahkan hidupnya untuk melayani manusia bahkan sampai rela mati di kayu salib, terhina dan penuh derita. Hidup-Nya diserahkan penuh untuk menyelamatkan dan melayani manusia. Mendengar hal khotbah tersebut, pemuda itu menanggapi dan menyerahkan diri untuk sungguh-sungguh hidup setia kepada Tuhan dan minta didoakan agar diteguhkan dan diberi semangat kembali untuk terus setia melayani Tuhan.

Saya kira bahwa kita seringkali kecewa, berhitung, malas dan kurang setia karena kita melupakan pekerjaan Kristus yang telah totalitas menyerahkan tubuh-Nya bagi kita untuk menebus dan menyelamatkan. Kita lupa bahwa tubuh-Nya terpecah dan darah-Nya tertumpah di Kalvari tanpa berhitung untuk keselamatan kita. Kita lupa bahwa Dialah sesungguhnya berkat itu, yang paling kita butuhkan, sebab tanpa Dia kita pasti binasa secara kekal. Kita harus ingat bahwa Kristus telah membeli kita dengan harga yang sangat mahal dan telah lunas dibayar dengan “tubuh dan darah-Nya sendiri.”

Bila kita ingin melihat kasih Kristus dan berkat-berkat-Nya bagi kita, lihatlah pada kayu salib itu. Di sana Ia menanggung dosa kita, di sana Ia memulihkan harga diri kita dan di sana ia membuat kita layak di hadapan Allah Bapa. Maka waktu kita memandang salib, kita bisa memandang dengan mengingat dua hal; pertama, bahwa kita begitu besar dosanya di hadapan Allah dan kedua, bahwa begitu besarnya kasih Allah kepada kita.

Maka malulah kita kalau kita tidak sungguh dan tidak setia dalam hidup ber-Tuhan dan melayani-Nya. Namun menarik Paulus bertekad agar dia tidak memperoleh malu, namun ia ingin mempermuliakan Kristus dengan tubuh-Nya. Ia mau melayani Kristus dengan sungguh, meski dianiaya, disesah, dibelenggu, dibenci, diolok-olok, dicela, dipatuk ular, mengalami kapal karam bahkan dipenjara dan akhirnya karena memberitakan Injil maka kepalanya harus dipenggal di Roma, untuk dipersembahkan bagi kemuliaan Allah Bapa di Surga. Mengapa? Karena tekadnya, ia ingin Kristus dipermuliakan bukan hanya melalui hidupnya namun melalui matinya.

Artinya apa? Paulus bukan orang yang hanya pintar berkhotbah dimimbar dan pintar mengkritik orang sana sini, namun ia menghidupi dan menghayati apa yang sungguh-sungguh menjadi kerinduan dan harapannya dalam hidup, yaitu agar Tuhan Allah yang hidup itu dimuliakan seumur hidupnya, bahkan dalam titik matinya. Pertanyaannya yang sangat penting dan sekaligus menjadi perenungan bagi kita adalah, apakah kita Berdiri Tegak di Atas Batu Karang 7 mempunyai semangat dan kerinduan yang sama untuk memuliakan Kristus Tuhan kita? Memakai hidup dan mati kita bagi kemuliaan nama-Nya. Maka marilah kita melayani Dia dengan sungguh seumur hidup kita. Yang terbaik dan tanpa tersisa. Amin.

Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *