Hari ini saya lanjut berkhotbah dari kitab Kolose. Minggu lalu, Pendeta Niko berkhotbah tentang peran anak-anak dari Kolose 3:20. Hari ini, kita lanjut ke ayat berikutnya, Kolose 3:21, tentang peran orang tua. Allah telah memberikan kepada para orang tua tanggung jawab yang sangat penting dan mulia, yaitu membesarkan anak-anak bagi Allah.
Jadi, apa yang Allah kehendaki dari para orang tua? Sangat sederhana: dipakai oleh Allah untuk menjadikan anak mereka murid Yesus. Amanat Agung dimulai dari rumah kita. Bagaimana para orang tua harus melakukannya? Kolose 3:21 memberikan jawabannya kepada kita. Bagi saudara yang belum menjadi orang tua, saudara dapat mempersiapkan diri mulai sekarang. Mari kita membacanya.
Meskipun hanya ayah disebutkan, bukan ibu, tetapi ayah juga termasuk ibu. Ayah adalah kepala dan wakil keluarga, sehingga perintah dalam ayat 21 termasuk ibu. Sama seperti kita kadang-kadang hanya mengatakan “saudara” untuk merujuk kepada saudara dan saudari.
Nah, saya tahu setelah membaca ayat ini, saudara mungkin berpikir hal ini sangat sederhana dan tidak menyeluruh. Mengapa tanggung jawab orang tua hanya tentang tidak membuat anak-anak mereka menjadi tawar hati? Bagaimana dengan mengajarkan kebenaran Alkitab kepada mereka? Pertanyaan yang sangat baik. Inilah sebabnya khotbah ekspositori sangat baik, karena khotbah ekspositori membuat kita melihat konteksnya. Rasul Paulus memang menghendaki agar para orang tua mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak mereka. Hal ini diasumsikan dalam Kolose 3:16, yang berkata, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”
Semua orang percaya seharusnya dipenuhi dengan kebenaran Allah, khususnya tentang Injil, lalu mengajarkan Injil dan kebenaran-kebenaran Alkitab lainnya kepada orang lain, terutama kepada anak-anak mereka sendiri. Alkitab sangat jelas bahwa orang tua, bukan gereja atau sekolah Kristen, memiliki tugas utama untuk membesarkan dan mengajar anak-anak. Efesus 6:4 berkata, “Hai bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Perintah ini diberikan kepada orang tua, bukan ke gereja atau sekolah Kristen.
Gereja dapat membantu para orang tua mengajar anak-anak mereka, tetapi tanggung jawab utamanya ada pada orang tua, khususnya ayah yang memimpin seluruh keluarga.
Sebagian besar anak hanya menghadiri gereja satu kali seminggu. Itu tidak cukup untuk mengenal kebenaran Allah. Mereka membutuhkan lebih banyak pengajaran di rumah. Dengan mengajar anak-anak, para orang tua juga menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa Allah dan kebenaran-Nya berkuasa atas keluarga mereka, bahwa orang tua sungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah. Itu bukan sekadar tradisi atau budaya keluarga. Itu adalah fokus dan makna utama hidup bagi para orang tua. Sikap seperti ini akan mendorong anak-anak untuk menganggap Allah dengan serius dan menjadi pengikut Yesus yang sungguh-sungguh berkomitmen.
Nah, bagaimana para orang tua harus mengajarkan Alkitab kepada anak-anak mereka? Ulangan 6:7 memberikan petunjuk kepada kita, “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya ketika engkau duduk di rumahmu, atau sedang dalam perjalanan, ketika engkau berbaring atau bangun.”
Ayat ini pada dasarnya mengatakan para orang tua harus mengajar anak mereka dalam berbagai situasi dan waktu. Ada berbagai cara untuk menerapkannya tergantung pada situasi dan jadwal setiap keluarga. Berikut beberapa cara yang istri saya dan saya lakukan bersama anak-anak kami, dan ini juga umum dilakukan oleh keluarga lain yang kami kenal.
Ada dua bentuk pengajaran: formal dan informal.
Pertama adalah saat teduh keluarga. Ini bentuk formal. Pilihlah waktu ketika seluruh keluarga dapat berkumpul dan mempelajari Alkitab bersama-sama. Anak-anak kami berusia 8–14 tahun. Kami mempelajari satu kitab dari Alkitab bersama-sama. Setiap hari kami berdoa, lalu membaca sebagian kitab. Saya bertanya kepada anak-anak tentang isi, misalnya apa yang diajarkan tentang Allah, apa yang diajarkan tentang manusia, dan bagaimana kita harus menerapkan kebenaran itu dalam hidup kita. Kalau mereka tidak tahu, saya akan menjelaskan atau mengoreksi jawaban mereka. Pada akhirnya, kami berdoa dan menyanyikan sebuah lagu. Kami berusaha melakukan ini setiap hari, tetapi kadang-kadang kami melewatkannya.
Bagi anak-anak, mereka perlu terlebih dahulu mengetahui dasar-dasarnya. Apa dasar-dasar itu? Ada empat hal. Pertama adalah Injil, kedua adalah semakin menjadi serupa Yesus dalam karakter-Nya, ketiga adalah mempraktikkan disiplin rohani dasar seperti doa dan pembacaan Alkitab, dan keempat adalah teologi.
Hal yang paling penting dan paling mendasar adalah Injil. Agar anak-anak menjadi murid Yesus, mereka harus terlebih dahulu mengenal Injil dan menerima Yesus. Injil adalah fondasi, sehingga sering kali kami berfokus dan memprioritaskan Injil. Kami meminta mereka menjelaskan apa itu Injil dan apakah mereka ingin percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hal ini sering muncul secara alami, khususnya ketika kami membaca kitab-kitab Injil. Kami mendorong mereka untuk jujur kepada kami dan mengajukan pertanyaan.
Hal terpenting kedua adalah agar para orang tua mengajar anak-anak mereka untuk semakin serupa dengan Yesus dalam karakter-Nya. Tujuan utama Allah bagi kita adalah supaya kita memuliakan-Nya dengan menjadi semakin serupa Yesus. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Kolose 3:10, “mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya.”
Tujuan hidup bukanlah kenyamanan, kesuksesan, uang, atau prestise. Semua itu adalah tujuan duniawi. Tujuan surgawi kita berbeda: memulihkan gambar Allah dalam diri kita yang telah dirusakkan oleh dosa sehingga kita menjadi semakin serupa Yesus.
Karakter Yesus apa saja itu? Semuanya dinyatakan dalam Kolose 3:12–17: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, kasih, damai sejahtera, rasa syukur, dan sikap yang mencintai Alkitab.
Kita juga perlu menjauhi dosa-dosa yang bertentangan dengan karakter Kristus sebagaimana disebutkan dalam Kolose 3:5–9, seperti dosa seksual, geram, kemarahan, kejahatan, fitnah, perkataan kotor, dan dusta.
Hal ketiga yang penting untuk diajarkan adalah disiplin rohani dasar seperti doa dan pembacaan Alkitab. Saya melakukan hal ini bersama anak-anak saya dalam saat teduh keluarga. Saya meminta mereka membaca dengan suara keras dan menjelaskan isi bacaannya. Pada akhirnya, saya juga meminta mereka berdoa. Saya memberi teladan doa dengan berdoa terlebih dahulu.
Hal keempat yang penting adalah teologi. Isinya tergandung usia. Bagi anak isi lebih dasar dan penting seperti penciptaan, Alkitab, Tritunggal, keselamatan, dosa, dan lain lain.
Untuk para remaja, kita dapat mengajarkan kebenaran yang lebih mendalam dan disiplin rohani yang lebih lanjut.
Bentuk pengajaran lain adalah kesempatan informal. Berartinya kita dapat mengajar anak ketika kesempatan muncul. Misalnya, ketika kita melihat seekor hewan yang luar biasa, kita dapat berkata, “Wah, Allah luar biasa karena menciptakan hewan yang begitu menakjubkan.”
Sepanjang hari, bisa ada kesempatan untuk menerapkan kebenaran Allah dalam hidup mereka. Jika anak bertengkar satu sama lain, kita dapat mengajar dan mengingatkan mereka tentang mengasihi dan memedulikan orang lain. Kita juga dapat mengajarkan tentang pengampunan. Jika mereka sombong, kita dapat mengingatkan mereka untuk rendah hati.
Kadang-kadang, ketika kita menidurkan mereka, kita berbicara dengan mereka tentang hari yang mereka jalani dan sedapat mungkin mencoba membawa Allah ke dalam percakapan tersebut. Kemudian kita mendoakan mereka sebelum mereka tidur.
Jadi, inilah beberapa cara kita dapat mengajarkan Injil dan Alkitab kepada anak-anak kita.
Nah, tidak cukup hanya mengajar anak-anak kita, kita juga perlu melatih mereka. Kata “nasihat” dalam Efesus 6:4 dapat diterjemahkan sebagai “pelatihan” dalam Alkitab.
Apa itu pelatihan? Pelatihan adalah membimbing mereka untuk mengembangkan gaya hidup yang menolong mereka mengikuti Yesus dan bertumbuh. Ini dapat melibatkan membantu mereka menerapkan kebenaran Alkitab dalam hidup mereka dan menolong mereka membuat pilihan-pilihan hidup yang mencerminkan kehendak Allah dan membuat mereka semakin serupa Yesus.
Sebagai contoh, jika saudara ingin menolong anak mengembangkan disiplin rohani, maka saudara dapat membuat jadwal bagi mereka untuk membaca Alkitab dan berdoa setiap hari.
Jika saudara ingin mereka memiliki karakter yang serupa Kristus, maka perlu melatih mereka untuk menjalaninya. Misalnya, saya ingin mereka punya sikap bersyukur, jadi ketika saya mengizinkan mereka nonton, setelah selesai saya akan mengingatkan mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada saya. Terutama jika mereka mengeluh, saya akan mengingatkan mereka untuk bersyukur dan berterima kasih karena telah diizinkan menonton, bukan malah mengeluh ingin waktu tambahan.
Contoh lainnya, Allah menghendaki kita untuk setia dan berdedikasi. Ini berarti anak tidak boleh malas, tetapi harus rajin dan berusaha melakukan yang terbaik. Kita bahkan dapat membuat jadwal harian bagi mereka, mulai dari saat mereka bangun sampai mereka tidur. Jadwal dapat menolong mereka mengembangkan pola hidup yang baik antara bekerja keras dan beristirahat, serta mengingatkan mereka tentang apa yang seharusnya mereka lakukan.
Cara lain untuk melatih mereka adalah dengan menjadi teladan yang baik. Jika saya ingin mereka membaca Alkitab dan berdoa, saya juga harus melakukannya sendiri. Jika saya ingin mendorong mereka bekerja keras, saya juga harus bekerja keras. Sering kali, anak saya dan saya mengerjakan pekerjaan kami bersama-sama di meja yang sama. Jika saya tidak ingin mereka terlalu lama nonton, maka saya juga tidak boleh terlalu lama nonton. Inilah pelatihan: menjadi teladan yang baik dan menata hidup mereka sedemikian rupa supaya mereka dapat mengikuti Allah dan bertumbuh.
Dibutuhkan pengajaran dan pelatihan untuk membentuk kehidupan yang saleh dalam diri anak-anak.
Jadi, cara pertama orang tua harus membesarkan anak adalah dengan mengajar dan melatih mereka.
Cara kedua adalah tidak sakiti hati mereka sehingga mereka tawar hati atau putus asa. Ini dalam Kolose 3:21. Apa arti sakiti hati? Artinya membuat mereka jengkel dengan cara yang tidak alkitabiah atau melakukan sesuatu yang salah terhadap mereka sehingga mereka kehilangan semangat atau menjadi putus asa.
Ketika anak menjadi tawar hati, apa akibatnya? Setiap anak bereaksi secara berbeda, tetapi semuanya tidak baik. Sebagian anak menjadi marah. Tentu saja, ada kalanya kita melakukan hal yang benar tetapi anak menjadi marah. Itu bukan yang dimaksud oleh ayat ini. Ayat ini hanya berbicara tentang kemarahan yang muncul karena dosa atau kesalahan orang tua.
Sebagian anak tidak menjadi marah, tetapi menjadi sedih dan menarik diri dari orang tua mereka. Mereka menjadi dingin dan menjaga jarak. Ini juga tidak baik.
Mengapa Allah secara khusus menekankan perintah ini? Karena orang tua memiliki begitu banyak otoritas dan kita dapat menyalahgunakan otoritas itu sehingga membuat anak menjadi tawar hati. Kita harus mengingat bahwa pada akhirnya anak kita adalah milik Allah, bukan milik kita. Allah memberikan anak-anak kepada kita untuk kita kasihi dan ajarkan mengikuti Yesus. Allah memiliki otoritas tertinggi, bukan kita. Allah memberikan hidup kepada semua orang. Semua hidup adalah milik Allah, termasuk kita dan anak-anak kita. Karena itu, orang tua tidak boleh menyalahgunakan otoritas mereka dan membuat anak menjadi tawar hati.
Ketika anak menjadi tawar hati, mereka tidak akan percaya kepada apa pun yang kita ajarkan dan latihkan kepada mereka. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak merusak hasil kerja keras kita sendiri.
Nah, bagaimana orang tua dapat sakiti hati anak. Ada banyak cara.
- Cara pertama adalah menjadi seorang munafik. Ini adalah cara yang paling umum dan paling menghancurkan untuk merusak semua pengajaran dan pelatihan saudara. Tidak seorang pun, termasuk anak saudara, akan percaya kepada perkataan saudara jika saudara adalah seorang munafik. Semua orang akan tersinggung oleh kemunafikan, terutama anak saudara. Jika saudara menyuruh anak membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, tetapi saudara sendiri tidak melakukannya, maka anak tidak akan mendengarkan saudara. Jika saudara mau anak punya sikap bersyukur, tetapi saudara sendiri tidak bersyukur, maka anak tidak akan mengikuti ajaran saudara. Tentu saja, kita tidak sempurna dan kita membuat kesalahan atau berdosa. Ketika itu terjadi, itu justru menjadi kesempatan yang baik untuk menunjukkan kepada anak praktik meminta pengampunan kepada Allah dan kepada sesama. Tetapi jika saudara terus hidup tanpa pertobatan, maka hal itu akan sakiti hati anak.
- Cara umum kedua untuk membuat anak tawar hati adalah memandang bulu. Saya pikir ini adalah pencobaan yang sangat umum. Semua anak kita berbeda-beda. Ada satu anak yang mungkin lebih pintar daripada yang lain, atau lebih lucu, atau lebih berbakat daripada yang lain. Orang tua mudah tergoda untuk lebih menyayangi satu anak dibandingkan anak-anak lainnya. Tetapi hal ini salah. Kita melihat bagaimana Yakub memandang bulu kepada Yusuf dan hal itu membuat saudara Yusuf marah dan membenci Yusuf. Perpecahan keluarga pun muncul. Keadaannya menjadi begitu buruk sehingga saudara Yusuf mencoba membunuhnya. Jangan memandang bulu. Hal itu akan sakiti hati anak. Memandang bulu bisa muncul dalam banyak bentuk. Misalnya: saudara menyuruh semua anak mengerjakan tugas rumah kecuali anak favorit saudara, padahal tidak ada alasan yang baik untuk memperlakukan satu anak berbeda dari yang lain.
- Cara ketiga untuk membuat anak tawar hati adalah disiplin yang berlebihan. Ketika kita memukul anak secara berlebihan, sebagian anak kehilangan motivasi untuk melakukan apa pun serta cenderung menarik diri. Disiplin baik, tetapi disciplin yang berlebihan atau kasar buruk. Ada juga orang tua yang sama sekali tidak mendisiplin anak walaupun anak sering berperilaku sangat buruk. Ini juga salah. Anak itu akan bertumbuh menjadi liar dan tidak taat. Hal ini terjadi pada imam besar Eli dan anaknya dalam 1 Samuel. Anak Eli melakukan berdosa sangat jahat, tetapi Eli tidak mendisiplin mereka atau memberikan konsekuensi apa pun kepada mereka. Akhirnya, Allah membunuh anaknya dan Eli. Jadi, disiplin baik, tetapi disiplin yang berlebihan buruk, akan sakiti hati anak.
- Cara keempat untuk membuat anak tawar hati adalah memiliki aturan yang tidak konsisten. Ini adalah hal yang masuk akal. Jika atasan saudara tidak konsisten dan berubah-ubah, maka saudara tidak tahu bagaimana menyenangkan dia. Hal itu membuat saudara marah dan kehilangan semangat. Hal yang sama berlaku bagi anak. Tidak apa-apa mengubah aturan ketika situasi berubah. Saya pernah mengatakan kepada anak saya yang masih kecil bahwa dia tidak boleh menggunakan gunting, tetapi ketika dia lebih besar, dia diperbolehkan menggunakannya. Namun, ketika kita mengubah aturan, kita harus memberi tahu mereka dan menjelaskan alasannya. Kita perlu memiliki aturan yang konsisten untuk diikuti anak.
- Cara kelima untuk membuat anak tawar hati adalah terlalu banyak mengkritik dan tidak pernah memberi dorongan. Anak tidak pernah cukup baik. Hal ini sangat mematahkan semangat. Sering kali target yang diberikan tidak realistis. “Kamu harus mendapat nilai A semua atau saya akan memukulmu.” Fokusnya adalah pada hasil, bukan pada bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Yang lebih buruk lagi adalah ketika orang tua membandingkan anak mereka dengan orang lain: “Mengapa kamu tidak bisa seperti kakakmu atau sepupumu?” Hal ini sangat mematahkan semangat. Orang tua harus belajar memberi dorongan dengan mengatakan, “Usahamu bagus,” kepada anak-anak mereka atau memuji mereka dengan berkata, “Kamu sudah berusaha dengan terbaik,” atau “Kamu melakukan pekerjaan yang terbaik.” Saya pikir sebagian orang tua takut memuji anak karena mereka khawatir anak akan menjadi sombong dan malas. Hal itu memang bisa terjadi. Karena itu, penting juga untuk mengajarkan anak bersyukur kepada Allah atas karunia mereka dan mereka harus rendah hati, sebab karunia berasal dari Allah dan harus digunakan untuk memuliakan Allah, bukan untuk menjadi sombong.
Ini adalah beberapa cara kita dapat membuat anak tawar hati. Sekarang mari kita membahas bagaimana kita dapat mencegah diri kita membuat anak tawar hati. Ada dua cara utama.
- Cara yang paling penting adalah mengasihi mereka. Kasih adalah dasar hubungan kita dengan anak kita, bukan hukuman fisik. Ketika mereka mengetahui saudara mengasihi mereka, maka mereka merasa aman dan lebih bersedia menerima pengajaran dan pelatihan saudara. Bahkan ketika saudara melakukan kesalahan terhadap mereka, mereka akan lebih bersedia mengampuni.
Kasih kita dapat dinyatakan dengan meluangkan waktu bersama mereka dan berbicara dengan mereka. Kita juga dapat menunjukkan kasih dengan secara verbal mengatakan bahwa kita mengasihi mereka. Kita juga dapat memberi mereka dorongan secara verbal. Kita juga melakukan tindakan dengan merawat mereka. Kita juga dapat meluangkan waktu khusus bersama mereka. Istri saya dan saya senang menghabiskan waktu khusus secara pribadi dengan masing-masing dari ketiga anak kami. Sekali dalam kira-kira dua bulan, istri saya atau saya akan mengajak salah satu dari mereka keluar untuk menikmati waktu khusus dan melakukan sesuatu yang disukai anak. Itu bisa sesederhana pergi ke rwarung dan membelikan minuman atau makanan favorit mereka sambil memiliki kesempatan untuk berbicara dengan anak itu tentang kehidupannya: bagaimana keadaan mereka di sekolah, dengan teman-teman mereka, dengan Allah, dan dengan Alkitab. Jadi, mengasihi anak kita adalah cara yang paling penting untuk tidak membuat mereka tawar hati.
- Cara kedua adalah berkomunikasi. Jika saudara membuat mereka tawar hati dengan cara yang tidak saleh, maka saudara harus meminta maaf. Jika saudara sebenarnya tidak bersalah, saudara juga tetap perlu berbicara dengan mereka tentang hal itu. Jelaskan apa maksud saudara dan mengapa hal itu penting serta memuliakan Allah. Jadi, komunikasi sangat penting. Jika saudara tidak berkomunikasi, anak dapat salah memahami saudara.
Nah, Allah menghendaki orang tua melakukan dua hal utama: mengajar dan melatih anak kita, serta jangan sakiti hati mereka.
Nah, jika kita melakukan semua hal ini dengan setia, apakah itu menjamin anak kita akan menjadi pengikut Allah? Tidak. Kita tidak dapat menyelamatkan anak kita. Hanya Allah yang dapat membuka hati anak kita untuk sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita hanya dapat dipakai oleh Allah.
Sebagian orang mengutip Amsal 22:6 sebagai suatu janji. Tetapi itu bukan janji, melainkan perkataan hikmat. Hikmat bukan janji. Kalau saya katakan, “Jika saudara tidak mabuk saat mengemudi, saudara tidak akan mengalami kecelakaan.” Ini hikmat, bukan janji. Saudara mungkin akan mengalami kecelakaan mobil karena orang lain mabuk, bukan saudara.
Alkitab jelas keselamatan ada di tangan Allah, bukan di tangan kita. Kita hanya dapat memberitakan injil, tetapi kita tidak dapat membuka hati seseorang untuk percaya dan bertobat.
Saya mengenal banyak orang tua yang saleh dan setia, bahkan para pendeta, yang memiliki sebagian anak yang percaya dan sebagian yang tidak percaya. Mereka membesarkan sema anak dengan cara yang sama, tetapi ketika dewasa, anak mereka memiliki hasil yang berbeda. Namun, bahkan bagi anak-anak dewasa yang belum percaya, itu tidak berarti bahwa mereka tidak akan bertobat di kemudian hari. Tetapi hal itu memang menunjukkan bahwa pengasuhan kita tidak menjamin keselamatan mereka. Pada akhirnya, kita membesarkan anak dengan tujuan untuk menyenangkan Allah, bukan untuk menjamin hasil yang kita inginkan.
Jika kita membesarkan anak dengan benar, Allah dapat memakai hal itu untuk menyelamatkan mereka dan menumbuhkan mereka secara rohani. Bukan hanya itu, kita juga dapat menjadi kesaksian yang besar tentang kasih Kristus dan membawa orang belum percaya kepada Kristus. Hal ini pernah terjadi kepada saya. Ada seorang wanita Muslim yang sangat terkesan melihat bagaimana saya mengasihi anak saya, meluangkan waktu bersama mereka, dan bermain dengan mereka, sehingga dia mulai berbicara dengan saya dan istri saya. Dia berasal dari keluarga di mana ayahnya memiliki empat istri dan tidak mengasihinya. Karena itu, ketika dia melihat bagaimana saya mengasihi anak perempuan saya, dia sangat tersentuh. Kami mengundangnya untuk mengikuti PA dan akhirnya dia menjadi seorang Kristen. Puji Tuhan. Mari kita membesarkan anak kita untuk menyenangkan Allah dan dipakai oleh-Nya mencapai hasil yang luar biasa.
Pengkhotbah: Ps. John Zheng



