“Hai Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan.” Kolose 3:20
Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal karena hal ini menyenangkan Tuhan (AYT). Hati Tuhan (TSI), Itulah yang Indah dihadapan Tuhan (TB).
Allah kita adalah Allah Pencipta manusia dan Lembaga keluarga. Sebagai Arsitek Agung Dia menyukai keteraturan, sehingga dalam keluarga ada Bapak, Ibu dan anak-anak diberikan-Nya peran masing-masing sesuai dengan kesanggupan, otoritas dan kehendak-Nya.
Beberapa Minggu lalu kita sudah mendengarkan khotbah Ps. John Zheng tentang peran suami dan istri dalam keluarga. Peran ini dirancang oleh Allah agar keluarga hidup menyenangkan hati Tuhan dan adanya keteraturan dalam keluarga.
Dan hari ini kita berbicara tentang peran anak dalam keluarga, dan tujuannya sama yaitu agar seorang anak menyenangkan hati Tuhan dan adanya keteraturan dalam keluarga.
Seorang anak hanya dapat menyenangkan hati Tuhan ketika ia mengikuti prinsip Allah di dalam Alkitab. Apa prinsip Allah tersebut?
1. Seorang Anak yang taat kepada orang tuanya
Dikatakan, “Hai Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal (Segala perkara, seluruh)…”
Kata “anak-anak” (bahasa Yunani: tekna) merujuk pada posisi hierarki yang Allah berikan dalam keluarga, bukan sekadar usia balita atau remaja. Selama seseorang berstatus sebagai anak dan hidup di bawah asuhan orang tua, kewajiban ini mengikat, termasuk mereka yang sudah menikah.
Kata “taat” dalam Bahasa Yunani: Hupakouo artinya patuh, menuruti, tunduk, takluk, menerima, mengikuti, mendengarkan, membuka (pintu), seperti seorang yang membuka pintu yg diketuk dari luar.
Taat tidak terjadi dengan sendirinya, “Anak harus menerima, mendengarkan, mengikuti dan berbuat.”
Tugas seorang anak adalah penuh taat kepada orang tua. Ketaatan adalah sesuatu yang sangat penting, hal ini diajarkan oleh Alkitab bahwa setiap anak harus mentaati orang tuanya.
Hal ini digambarkan seperti seorang bawahan mendengar dengan saksama, memperhatikan atau menyesuaikan diri dengan perintah atasannya. Mengapa? Sebab atasan memiliki otoritas (memimpin dalam kasih) sehingga bawahan mendengarkan, taat kepada, mematuhinya untuk mencapai tujuan.
Seorang anak harus taat kepada orang tua, sebab itulah perintah Tuhan! Saudara tidak boleh mentaati perintah Tuhan asal-asalan apalagi melanggar perintah Tuhan. Dan untuk mencapai tujuan yang sesuai kehendak Allah, maka:
a. Ketaatan harus diajarkan kepada Anak.
Siapa pun anak itu, ia harus diajarkan tentang ketaatan. Mengapa? Sebab anak tidak bisa secara alami mentaati orang tua dengan sendirinya. Alkitab memberitahukan bahwa anak-anak harus diajarkan ketaatan, mengapa?
-Sebab kebodohan melekat pada anak muda (Amsal 22:15),
– Sebab anak mewarisi sifat orang durhaka (Ef 2:2),
– Sebab anak memiliki sifat berdosa dan cenderung memberontak (Mzm 58:3),
Orang tua; ayah dan ibu sama-sama memiliki peran memberikan ajaran kepada anaknya – ayah: perintah (otoritas), ibu: pengajaran / nasihat (Amsal 6:20). Orang yang diajarkan oleh orang tua dengan baik dan menerima ajaran orang tua dengan baik maka mereka akan tumbuh dengan baik dikemudian hari. (Amsal 22:6). Orang tua mengajarkan bisa memakai nasihat, pengajaran, perintah bahkan bisa menggunakan rotan (Amsal 23:13-14; 13:24).
b. Ketidaktaatan harus ada hukumannya.
Allah sangat serius tentang perlunya anak-anak menghormati – taat kepada orang tua. Jika Anak tidak mentaati orang tua maka dalam PL jelas konsekuensinya.
b1. Hukuman sebagai bentuk Pelajaran
Memukul berarti menghukum – memberikan pelajaran berupa hukuman tegas terutama untuk anak yang nakal luar biasa (tidak bisa diajar, dinasihati dan diperintah). (amsal 20:30), pukulan bertujuan membersihkan kejahatan dan membersihkan lubuk hati (bukan kematian).
Hukuman diberikan karena kasih bukan karena kebencian tetapi karena kebaikan dan agar seorang anak hidup dalam ketertiban, kekudusan menyenangkan hati Tuhan. Wahyu 3:19 – siapa dikasihi ditegor dan dihajar agar bertobat.
Kalau tidak ada hukuman maka seseorang anak menanggap apa yang diperbuat sudah benar, dia tidak takut dan dia berbuat sesuka hati dan bisa berbuat sembarangan.
b2. Hukuman sebagai bentuk Murka
Apabila seseorang mempunyai anak laki-laki yang degil dan membangkang, yang tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya dan ibunya, dan walaupun mereka menghajar dia, tidak juga ia mendengarkan mereka, maka haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang tempat kediamannya, dan harus berkata kepada para tua-tua kotanya: Anak kami ini degil dan membangkang, ia tidak mau mendengarkan perkataan kami, ia seorang pelahap dan peminum. Maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu; dan seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut. Ulangan 21:18-21
Catatan: tidak mampu mengandalikan diri Amsal 23:20-21 (pemalas dan berkumpul dengan para pendosa) Mat 11:19 dan Lukas 7:34.
Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Imamat 20:9
Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati. Kel 21:15
Konsekuensi semacam ini harusnya membuat seseorang takut melawan orang tua, berlaku jahat, mengutuki dan memukul orang tua.
b3. Ketaatan mendatangkan Berkat.
Allah memperhatikan dan memberkati anak-anak yang hidup taat – menghormati orang tuanya.
Secara manusia, kalau saudara sayang orang tua, maka orang tua senang, orang lain pun yang melihatnya ikut senang. Namun kita harus tahu juga bahwa Allah senang dengan anak-anak yang menataati orang tuanya.
Saya melihat anak-anak yang menyayangi orang tuanya hidupnya diberkati Tuhan dan Bahagia, sementara anak-anak yang suka melawan orang tua, hidup mereka kacau, berantakan dan menyedihkan.
Anak yang mentaati orang tua, mereka akan menerima janji Tuhan bahwa mereka akan lanjut umurnya dan baik keadaan mereka di tanah yang Tuhan berikan kepada mereka (memiliki kebahagiaan) Ef 6:2-3, Kel. 20:12, Ul 5:16.
Perintah mentaati orang tua disertai oleh janji Tuhan bagi mereka yang menataatinya. Umur Panjang, berkat dan kesejahteraan serta hidup yang berkualitas. Maka taatilah orang tuamu, mereka sudah Tuhan tetapkan menjadi orangtuamu. Yang memiliki otoritas untuk mengajar dan mendidik engkau serta mengalirkan berkat Tuhan dalam hidupmu.
2. Seorang Anak yang menyenangkan hati Tuhan
Dikatakan, “Hai Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan. Taat kepada orang tua harus disertai dengan sikap yang menyenangkan hati Tuhan. Kalimat “dalam segala hal” menunjukkan ketaatan yang menyeluruh, mulai dari hal kecil hingga hal yang besar.
Mengapa taat dalam segala hal? John Wesley berkata sesuai dengan perkataan Paulus dalam Efesus 6:1, “Itu adalah hal yang benar.” Mengasihi orang tua didasari pada kebenaran Tuhan bukan perasaan atau belas kasihan, tradisi atau budaya manusia.
Jadi ketika seorang anak mentaati orang tuanya, itu karena kehendak Tuhan dan itulah kebenarannya dan hal itu menyenangkan hati Tuhan.
Maka kita harus mengerti bahwa Ketaatan “dalam segala hal” tidak bisa diartikan secara membabi buta / salah tetapi ketaatan ini dibatasi oleh hukum Allah. Jika perintah orang tua bertentangan dengan firman Tuhan atau mengajak untuk berbuat dosa, maka seorang anak harus menolak dan lebih taat kepada Tuhan dan firman-Nya.
Jadi seseorang taat harus dalam motivasi yang jauh lebih besar dari sekedang menyenangkan orang tua tetapi motivasinya adalah menyenangkan hati Tuhan. Bila orang tua meminta anaknya mencuri, membunuh, mengingini harta orang lain, menyembah berhala atau melawan perintah atau kehendak Allah. Maka janganlah mengikutinya.
Kristus sepenuhnya taat kepada Allah Bapa di Surga karena semua kehendak Bapa adalah sepenuhnya baik dan benar. Demikian kita taat kepada orang tua kita jika apa yang dikehendakinya adalah hal yang baik dan benar.
Dalam hal ini, Ketaatan seorang anak bukan sekadar etika kesopanan budaya, melainkan sebuah tindakan ibadah, tidakan cinta, iman dan kerinduan untuk memuliakan nama Tuhan. Ini yang disebut “menyenangkan hati Tuhan” karena mencerminkan ketundukan kita kepada otoritas tertinggi, yaitu kepada Tuhan kita. Otoritasnya jauh diatas orang tua kita, orang tua kita hanya menjalankan otoritas dari Tuhan yang kita sembah.
Jadi, Ketaatan anak kepada orang tua berarti anak Menghargai Otoritas yang Tuhan berikan kepada orang tua. Terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, keadaan atau latar belakang mereka. Ketaatan seorang anak kepada orang tua adalah suatu kewajibannya atas kehidupan, pemeliharaan, dan kasih sayang yang telah mereka berikan sejak ia dilahirkan.
Ketaatan anak kepada orang tua berarti ia rela melakukan diperintah dengan kasih, sukacita, tanpa menunda-nunda atau menggerutu. Dalam konteks yang lebih luas dan besar, kita bisa mentaati seorang guru, mentor dan hamba-hamba Tuhan yang Tuhan berikan otoritas untuk mengajarkan dan membimbing kita kepada kebenaran-Nya. Amin
Pengkhotbah: Pdt. Nikodemus Rindin



