22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu adalah hambanya. 25 Siapa saja yang berbuat salah akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang muka. Kolose 3:22-25

Bekerja adalah suatu mandat budaya yang telah Allah berikan kepada manusia sejak manusia pertama diciptakan. Bekerja bukan baru terjadi setelah manusia jatuh dalam dosa tetapi sebelum manusia jatuh dalam dosa pun manusia sudah bekerja.

Waktu kita melihat kitab Kejadian 2:15, dikatakan bahwa “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Dan Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja, selama enam hari Ia berkarya dalam penciptaan dan hari ketujuh beristirahat. Kej 1-2:2-3.

Dan banyak orang Kristen yang memisahkan kehidupan rohani dengan kehidupan kerja hari-hari. Ibadah dianggap hanya terjadi di dalam gedung gereja pada hari Minggu saja, sementara hari Senin hingga Sabtu saat bekerja dianggap sebagai rutinitas sekuler yang terpisah. Namun, melalui suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus menegaskan bahwa aktivitas sehari-hari umat pun termasuk pekerjaan adalah tempat penting dimana kita mendemonstrasikan iman kita kepada dunia.

Dan disanalah kita harus menjadi garam dan terang dunia, mewartakan nama Tuhan melalui kehidupan kerja kita.  Jadi waktu saya bekerja maka saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh agar saya berkenan kepada Allah. Ciri-ciri hamba-hamba yang berkenan kepada Allah adalah:

  1. Mentaati Tuan karena Takut kepada Tuhan (ay.22)

22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

Hamba-hamba (doulos), budak, yaitu seseorang yang menyerahkan dirinya dibawah kehendak orang lain, ia berkewajiban penuh untuk melayani tuannya dengan taat.

Semua hamba-hamba Kristen diminta untuk memiliki sikap yang taat kepada otoritas tuannya. Meskipun mereka adalah tuan yang bukan Kristen. Baik kepada tuan yang baik maupun kepada tuan yang bengis. Mereka harus ditaati, dan ini adalah suatu prinsip yang Allah tegakkan.

Mentaati tuan bukan karena kita selalu setuju dengan semua perbuatannya tapi karena sadar bahwa itulah kehendak Allah meskipun karenanya kita harus menanggung suatu penderitaan yang tidak harus kita tanggung (1 Petrus 2:18-19).

Otoritas atau kekuasaan manusia pada dasarnya adalah delegasi atau mandat dari Allah untuk menjaga ketertiban dan kesejahteraan; baik di rumah, ditempat kerja, maupun dipemerintahan agar teratur dan berjalan dengan baik.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.“ Roma 13:1

Tentu otoritas yang dimiliki tuan bukan untuk dijalankan dengan sembarangan – sesuka hati, tetapi harus sesuai dengan kehendak Tuhan dan sikap hati yang takut akan Tuhan.

  • Ketaatan seorang hamba/budak didasari dengan tiga sikap penting:
  • Sikap Menyenangkan hati Tuannya
  • Sikap hati yang tulus
  • Sikap takut akan Tuhan
  1. Sikap Menyenangkan Hati Tuannya

22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.  Sebagai seorang pekerja tentu hamba harus hadir untuk menyenangkan hati tuannya.

Menyenangkan disini berarti membawa sukacita, kesenangan bagi tuannya, bukan kekecewaan / kemarahan.  Jadi sikap dan perbuatan harus menyenangkan Sang Tuan.

Seorang pekerja yang baik, tentu tidak hanya bekerja demi kepentingan / kesenangan dirinya saja tetapi ia bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan tuannya dan menyenangkan hati tuannya.

Kita berlajar dari Kristus. Kristus adalah Hamba Allah, maka Ia bekerja – melayani Bapa di Surga dan taat sampai mati di kayu salib, fokusnya hanya satu mengerjakan pekerjaan Bapa dan menyenangkan hati Bapa.

Dalam perumpamaan Tuan dan hamba (Lukas 17:7-10). Dikatakan, “Setelah hamba pulang membajak atau mengembalakan ternak milik tuannya, “Apakah ia langsung disuruh makan”? Tidak! Tetapi dia diminta menyediakan makanan, mengikat pinggangnya dan melayani makan dan minum tuannya terlebih dahulu. Apakah tuan berterima kasih kepadanya? Justru ia berkata bahwa ia hanyalah hamba yang tidak berguna. Ia memandang bahwa ia patut melakukan pekerjaan yang harus dilakukan. Apa itu? Menyenangkan hati tuannya.  Sebab dia adalah Hamba.

Menyenangkan hati tuan beda dengan istilah Asal Bos Senang. Menyenangkan hati tuan dalam hal ini ia sungguh mau membuat tuannya senang melalui ketaatan, mau tunduk, mau melayani, melakukan yang terbaik yang diminta.

Waktu kita bekerja, maka bos senang kalau kita bekerja dengan displin, bekerja keras, mengerjakan tugas-tugas/bertanggungjawab dengan baik, tidak buang-buang waktu, tidak mendatangkan kerugian.  Menjaga nama baik, harkat dan martabat.

  1. Sikap hati yang Tulus

22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

Kata tulus menunjukan sikap murah hati dan kesetiaan dengan segenap hati. Artinya tidak dibuat-buat. Antara ucapan dan perbuatan itu sesuai dengan isi hati.  Ia tulus melayani tuannya, tidak terpaksa dan memiliki motivasi yang jahat.  Apakah ada orang yang bekerja dengan hati yang tidak tulus?

Bekerjalah dengan tulus hati, bukan sekadar lips-service atau mencari muka ( hanya untuk menyenangkan manusia).

Tulus hati terlihat dari sikap yang tidak berpikir dan berbuat jahat kepada tuannya. Ada orang didepan tuannya baik sekali, mulut manis sekali tetapi dibelakangnya ia mengatai-ngatai dan bersikap jahat. Melaporkan hal-hal yang manis-manis saja, atau menjelek-jelekkan orang lain demi dirinya terlihat baik (penjilat).

Dalam perumpamaan tentang talenta dalam Mat 25:18,24-27, Seorang yang mendapatkan satu talenta tidak menjalankan tugasnya, ia menyembunyikan alasannya bahwa dia takut karena tuannya kejam, tuannya  menuai dari mana ia tidak menabur dan memungut dari mana ia tidak menanam. Apa tanggapan tuannya? Ia dipandang sebagai hamba yang jahat karena tidak menjalankan talentanya atau memberikan kepada orang lain untuk dijalankan.

Ia tidak tulus melakukan tugasnya dan tidak ikut berbahagia dengan keberhasilan – kebahagiaan tuannya yang telah memberikan tanggungjawab kepadanya.

Tanggungjawab adalah sesuatu yang istimewa yang patut dijalan dengan baik dan benar, berapa pun besarnya itu. 1, 2 atau pun 5 talenta. semua bernilai Ketika kita lakukan dengan setia.

  1. Sikap takut akan Tuhan

22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang didunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati manusia, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan

Kata takut artinya menghormati.  Ada rasa takut dan menghormati Tuhan itu penting sekali, termasuk di dunia pekerjaan. Manusia tidak melihat tetapi Tuhan melihat, manusia bisa kita bohongi tetapi Tuhan tidak bisa kita bohongi.

Jadi dasar dari sikap taat; menyenangkan hati, tulus hati itu karena seorang hamba takut dan hormat kepada Tuhan. Kita melakukan pekerjaan kita bukan hanya untuk bos kita saja tetapi untuk Tuhan yang adalah pemilik pekerjaan itu. Landasan ketaatan adalah rasa hormat kepada Tuhan karena Tuhan adalah Tuan kita yang lebih besar dari bos dunia kita.

Jadi kita bekerja bukan hanya untuk menyenangkan atasan di dunia, melainkan wujud ketaatan dan kasih kepada Tuhan. Waktu saudara menjalankan tanggungjawab saudara maka saudara Menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada saudara.

  1. Mengerjakan Totalitas seperti untuk Tuhan (ay.23)

23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Seorang pekerja harus memiliki mentalitas untuk mengerjakan semuanya dengan totalitas dan yang terbaik. Segenap hati, artinya sepenuh hati, totalitas, sebaik mungkin karena ini untuk Tuhan.

Jikalau saudara bekerja untuk presiden apakah saudara berani bekerja sembarangan? Saya pikir saudara tidak mungkin bekerja sembarangan untuk presiden, saudara akan berusaha melakukan dengan sebaik mungkin.

Saya memiliki teman yang sering masuk istana, dia berkata bahwa bila presiden memerintahkan untuk ganti lukisan dan karpet, termasuk kursi maka tidak ada yang berani membantah. Mereka hanya bisa berkata, “siap dan menjalankannya sebaik mungkin.”

Pada bagian ini saya dan saudara di ajak oleh Paulus untuk memikirkan bahwa pekerjaan kita lebih dari sekedar menyenangkan bos dunia ini tetapi untuk menyenangkan bos kita yang ada di surga. Maka waktu kita bekerja angkatlah mata  dan hati kita ke surga, meski kita bekerja untuk bos di dunia ini tetapi motivasi kita untuk menyenangkan bos surgawi kita, yaitu Yesus Kristus.

Apakah saudara berani bekerja sembarangan, setengah-setengah. Mari pikirkan apakah Tuhanku layak dilayani dengan cara seperti ini? Waktu bekerja, melayani bahkan waktu saya belajar?

  1. Percaya bahwa Tuhan itu Adil (ay.24-25)

24 Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu adalah hambanya. 25 Siapa saja yang berbuat salah akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang muka.

Tuhan adalah Pribadi yang Adil, Ia tidak pernah lalai atau melupakan hamba-hambanya yang baik dan setia.

Kita lihat dalam perumpamaan talenta hamba yang setia Ia berkata,

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Mat 25:23

Manusia terkadang mungkin bisa lalai dan lupa bahkan tidak adil tetapi Tuhan tidaklah demikian. Tuhan tidak pernah lalai dan melupakan jerih payah saudara. Karena itu tidak ada jerih payah yang sia-sia. Maka waktu kita melakukan Pekerjaan atau pelayanan tidak boleh hanya berorientasi pada manusia, pujian, uang, jabatan atau materi duniawi.

3.1. Dimensi keadilan Tuhan: Memberi Upah

24 Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu adalah hambanya.

Dimensi keadilan Tuhan dapat kita lihat melalui cara Tuhan memberi Upah. Upah Sejati kita peroleh dari Kristus, karena Kristus adalah Tuan sejati kita dan kita hamba-hambanya.

Mengapa kita menjadi hamba Kristus? Karena Dia telah membeli kita untuk menjadi hamba-hambanya. Jadi semua kita yang telah dibeli Kristus dengan darah-Nya kita adalah milik-Nya dan hamba-hamba-Nya.

Semua yang kita lakukan kita lakukan bagi Kristus. Tuhan Yesus adalah pemberi upah sejati. Tetaplah setia dan jujur, karena warisan kekal dari Tuhan jauh lebih besar dari sekadar gaji duniawi yang kita terima.

Terkadang Keadilan duniawi sering kali mengecewakan. Maka kita harus mengandalkan Tuhan dan berharap kepada Tuhan.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!“ Yeremia 17:17.

Hidup saudara siapa yang jamin? Tuhan, dirimu atau orang lain? Alkitab jelas berkata bahwa Tuhan yang jamin. Jadi mengapa saya harus takut, berbuat curang dan tidak adil?

Bos tidak mampu menjamin hidupmu dan dirimu pun tidak bisa menjamin hanya Tuhan yang bisa. Maka jangan berharap kepada manusia, berharap kepada Tuhan maka engkau sejahtera dan sukacita.

Jadi semua yang sudah saudara kerjakan dalam kasih dan dalam nama Tuhan pasti diperhitungkan oleh Tuhan dan Tuhan memberikan upah yang layak bagi saudara.  Ketika Tuhan memberi upah maka kita layak bersyukur dan memuliakan Dia, dan jangan pernah melupakan Dia.

3.2. Dimensi keadilan Tuhan: Memberi Keadilan

25 Siapa saja yang berbuat salah akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang muka.

Tuhan kita adalah Tuhan yang adil, Ia tidak memandang muka atau pilih kasih/pandang bulu. Siapa yang berbuat benar mendapatkan balasannya, tetapi siapa yang berbuat salah mendapatkan hukumannya.

Tuhan tidak memandang bulu dalam menerapkan keadilan, Ia Hakim yang adil atas siapa pun.

Maka Hindari kecurangan, perbuatan jahat dan kemalasan di tempat kerja karena setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Bagi yang diperlakukan tidak adil, percayalah Tuhan akan bertindak. Bagi yang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh yakinlah bahwa Tuhan pemberi upah yang tidak pernah salah.

Mata Tuhan tidak buta, Dia tidak pernah lalai, terlelap dan tertidur. Dia pemelihara dan penyedia yang setia bagi umat-Nya.

Mari kita kerjakan pekerjaan kita sebaik mungkin, jangan menggerutu atau berhitung. Karena Tuhan itu adil dan jangan sampai terlambat dan menyesal.

Akhirnya, kita harus tahu bahwa Pekerjaan adalah mimbar pelayanan kita. Jadikan pekerjaan sebagai sarana kita untuk memuliakan nama Tuhan dengan bekerja tulus, jujur, dan berintegritas.

Waktu kita bekerja jangan pernah bekerja sembarangan, malas dan tidak bertanggungjawab, dengan segenap hati. Ingat motivasi kita bekerja adalah untuk menyenangkan hati Tuan kita, yaitu Tuhan kita, Ia tahu yang kita lakukan dan kerjakan.

Dan waktu kita bekerja, ingatlah bahwa disanalah kita menjadi contoh bagi dunia ini dan menjadi berkat bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Karena itu bawalah nilai kebenaran firman Tuhan di hidupilah dunia kerjamu. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

Author admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *