Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah bahwa kamu mempunyai tuan di surga.  Kolose 4:1

Dalam etos kerja Kristen yang ditekankan bahwa semua relasi antara atasan dan bawahanharus didasarkan pada keadilan, kejujuran, dan kesadaran bahwa kita semua memiliki Tuan yang di surga.

Menurut Hendry Metthew, “Kewajiban tuan terhadap hamba-hambanya, bukan hanya keadilan yang dituntut dari mereka, tetapi juga kesetaraan dan kebaikan yang tegas. Hendaklah mereka memperlakukan hamba-hamba mereka sebagaimana mereka mengharapkan Allah memperlakukan diri mereka sendiri.”

1. Tuan-Tuan harus Berlaku Adil

Hai tuan-tuan, berlakulah adil,…

Para tuan juga diingatkan untuk tidak sewenang-wenang dan harus memperlakukan bawahan dengan penuh tanggung jawab dan adil.

Meskipun tuan-tuan memiliki hak dan otoritas dalam hubungan kerja, tetapi majikan atau pemimpin wajib memberikan hak yang setara, upah yang layak dan kondisi kerja yang manusiawi kepada bawahannya. Bukan hanya tentang aturan hukum tetapi tentang integritas moral.

Untuk Berlaku adil ingat tiga hukum ini:

1.a. Ingat hukum kasih

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Matius 22:37-39

Waktu saudara bekerja harus diwarnai dengan semangat kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama.

Tanpa adanya kasih, maka pekerjaan hanya ditujukan untuk kepentingan dan keuntungan diri serta diwarnai dengan penyalahgunaan kekuasaan, tidak ada integritas dan tanpa keadilan.

Tetapi ketika adanya kasih maka pekerjaan bukan hanya tentang keuntungan dan kepentingan diri tetapi agar tercipta relasi yang saling memberkati dan berbagi bahkan kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan.

Keadilan harus menjadi suatu semangat yang ditampakkan dalam bekerja. Dengan bersikap adil maka akan mengurangi hal-hal yang negatif dalam pekerjaan.

1.b. Ingat hukum kepemimpinan Kristen

Yesus berkata bahwa kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang melayani, merendahkan diri, berempati dan mensejahterakan (Mat 20:25-28, Markus 10:42-45).

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.“ Matius 20:25-28.

Hal ini berbeda dengan kepemimpinan dunia, yang seringkali menggunakan kekuasaan sewenang-wenang, melakukan pemaksaan dan mengontrol orang lain demi kepentingan diri sendiri

Berlaku Adil ditampakkan melalui sikap:

  1. Tidak Curang

Tidak berbuat curang artinya tidak bertindak mengakali atau melanggar aturan yang telah disepakati demi mendapatkan keuntungan pribadi secara melawan hukum, yang berakibat merugikan pihak lain

  1. Tidak melakukan kekerasan/Penidasan

“Jangan menindas/memeras/merampas sesamamu manusia (TSI/TB) Imamat 19:13a.  Israel pernah mengalami penindasan di perbudakan Mesir. Dan mereka juga mengalami penindasan di pembuangan.

  1. Tidak mengurangi hak

janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Imamat 19:13a.

Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu. Ulangan 24:15

1.c. Ingat hukum Tabur Tuai/Hukum konsekuensi?

Setiap tindakan, perkataan, dan keputusan yang dilakukan seseorang (menabur) akan menghasilkan konsekuensi atau balasan yang sepadan di masa depan (menuai)

Konsep ini mengajarkan bahwa kehidupan bekerja seperti pertanian. Jika Anda menanam benih yang baik, Anda akan memanen hasil yang baik.

Pentingnya tanggungjawab moral dalam seiap perbuat kita. Anda tidak bisa memetik buah yang manis jika benih yang ditanam adalah benih yang buruk.

Galatia 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (kepastian bahwa Allah tidak bisa anda permainkan).

Mazmur 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

Amsal 22:8-9 Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

2. Tuan-Tuan harus Berlaku Jujur

Berlaku Jujur artinya bersikap benar baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.  Seorang Tuan/majikan tidak boleh melakukan penipuan, manipulasi, atau eksploitasi dalam relasi antara atasan dan bawahan.

  1. Dalam perkataan, seorang majikan harus berkata-kata benar, sesuai dengan kenyataan/fakta dan tidak melebih-lebihkan atau mengurangi fakta yang ada.
  2. Dalam Perbuatan, seorang majikan harus memberlakukan sesuatu sesuai dengan aturan yang benar, tidak curang, dan bertindak apa adanya tanpa dibuat-buat. Segala bentuk komunikasi dan kesepakatan harus transparan.

Kejujuran sangatlah penting:

Kejujuran dalam aspek apa pun sangatlah penting dan kejujuran adalah fondasi utama untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan professional. Kejujuran membawa kedamaian dalam hati dan pikiran, serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

3. Tuan-Tuan harus ingat Tuanmu ada di Surga

Tuan-Tuan/para majikan harus ingat bahwa mereka pun memiliki Tuhan dan Tuan mereka adalah Tuhan. Tuhan kita sesungguhnya itu ada di surga. Ia melihat perlakuanmu terhadap bawahanmu. Terhadap pembantumu, sopirmu, securitimu, pegawaimu atau anak buahmu.

Melalui Paulus, Tuhan mengingatkan bahwa Tuan-Tuan (atasan/pemimpin) sesungguhnya mereka bukanlah pemilik mutlak otoritas atas bawahannya. Sebab ada Tuhan di Surga yang menjadi Tuan atas mereka.

Di mata Allah, status sosial atau jabatan di dunia tidak membuat seseorang lebih tinggi nilainya. Pemimpin Kristen kelak harus mempertanggungjawabkan cara mereka memperlakukan bawahannya di hadapan Tuhan.

  1. Kita semua Setara di Hadapan Tuhan: Baik atasan maupun bawahan memiliki status yang setara di mata Allah. Keduanya memiliki satu Tuan yang sama di surga yang akan mengadili perbuatan dan cara memimpin setiap orang.
  2. Kita semua Bekerja untuk Kemuliaan Allah: Prinsip ini mengajarkan bahwa orang Kristen harus menjadikan setiap pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai bentuk pelayanan yang memuliakan Allah, bukan sekadar mencari keuntungan duniawi.
  3. Kita semua akan diadili oleh Dia. Jadi semua yang kita lakukan didunia terhadap pekerja kita akan dinilai oleh Tuhan, apakah kita sudah berlaku benar dan melakukan kehendak Tuhan? Tuhan itu adil, dihadapan-Nya kita tidak mungkin bisa mengelak dan berbohong. Ia akan mengadili setiap perbuatan curang atau bengis, tidak adil dan tidak jujur. Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Maka Bagi setiap atasan/majikan harus memberikan gaji tepat waktu, hargai kerja keras bawahan, jangan berlaku kasar atau sewenang-wenang, dan ciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung.

Dan bagi bawahan/pekerja, harus menjalankan tanggung jawab dengan jujur dan sungguh-sungguh seolah-olah sedang bekerja untuk Tuhan sendiri, meski memiliki atasan yang sulit. Demikian juga harusnya bagi para majikan atau tuan.

Akhirnya tahulah kita bahwa setiap otoritas yang kita miliki di dunia (keluarga, tempat kerja, atau masyarakat) adalah mandat dari Tuhan. Pertanyaan perenungannya adalah: Apakah cara kita memimpin atau memperlakukan orang lain sudah mencerminkan karakter Kristus yang adil dan jujur?

Penghotbah Pdt. Nikodemus Rindin

 

Author admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *