5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. 6 hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. Kolose 4:5-6
Sikap penting yang perlu diperhatikan orang percaya di tengah dunia ini, dalam hubungan dengan sesama, yaitu:
1. Memiliki Hidup yang Penuh Hikmat
Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar (ay. 5a)
Kata “hiduplah” peripateo yang berarti bersikaplah, berlakulah, berjalanlah dalam hikmat ilahi. Jadi seseorang diminta bukan hanya menjalani hidupnya saja namun secara aktif bertindak dengan hikmat yang ia terima dari Tuhan.
Hikmat (sofia) berarti bijaksana, pengertian, kecerdasan dari Tuhan (bukan hikmat duniawi – tetapi pengertian Ilahi). Hikmat sangat diperlukan agar kita tidak menjalani hidup kita ini secara sembarangan, salah arah dan tidak berkmat dan berkualitas dalam dunia. Hikmat yang kita miliki kita terima dari Tuhan, melalui firman yang Ia sampaikan kepada kita. Maka takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat dan pengetahuan. Amsal 1:7.
Orang percaya harus memiliki hikmat sehingga gaya hidup, integritas, dan perilaku yang dimiliki berbeda dari dunia ini. Ingat kehadiran kita dalam dunia untuk menjadi kesaksian; di mana perbuatan kita menjadi surat terbuka bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan
Orang berhikmat mampu mengandalikan diri, menggunakan akal budi, pengetahuannya untuk mengambil keputusan dan bertindak secara tepat. Kita tidak boleh menyerahkan diri pada keinginan nafsu kita namun dalam hikmat Tuhan. Maka waktu kita menjalani hidup, kita harus sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus. Inilah jalan hikmat Tuhan.
2. Dapat Mempergunakan Waktu yang Ada
pergunakanlah waktu yang ada (ay.5b).
Kata pergunakan berarti memerah keuntungan sebanyak-banyaknya, menebus sesuatu yang berharga.
Kata “menebus” menyiratkan ada sesuatu pembayaran. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan suatu barang atau pencapaian. Jika barang itu tidak berharga, tidak akan mungkin ditebus oleh pemiliknya. Kita akan menebus sesuatu yang kita anggap berharga dan bernilai untuk mendapatkannya Kembali.
Kita harus mempergunakan/memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Semua kita mempunyai waktu yang sama setiap hari, yaitu 24 jam. “Hiduplah hari ini, seolah-olah hari ini adalah hari terakhirmu.”
Jadi tindakan anda yang penuh hikmat, terlihat dari cara anda mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Jangan melakukan hal yang sia-sia seperti orang yang tidak mengenal Allah.
Waktu-waktu yang kita miliki sangat berharga dan bernilai serta terbatas. Maka pergunakanlah waktu yang ada. Kapan waktu yang ada? Ini ini, besok, lusa dan ke depan, semasa kita masih hidup. Maka pakailah, memaksimalkanlah setiap kesempatan yang kita miliki. Yang bekerja, bekerjalah dengan baik, yang sekolah/kuliah, melayani dan melakukan apa pun lakukanlah dengan baik agar tidak menyesal dan terbuang sia-sia.
3. Berkata-kata dengan Penuh Kasih
hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih (ay.6a)
Dalam terjemahan lain (penuh berkat, penuh hadiah, menyenangkan dan menarik, manis didengar, dan selalu menyatakan hadirat serta dalam anugerah Tuhan kepada orang lain).
Ini menyiratkan seakan kehadiran Anda dan perkataan Anda, sedang menyatakan dan mewakili kehadiran Allah. Jadi perkatan kita haruslah perkataan yang bermakna dan perkataan yang baik. Baik perkataan dalam interaksi hari-hari dalam keluarga, pekerjaan dan dimana pun, maupun perkataan dalam pengajaran dan perkataan dalam pemberitaan firman Tuhan. Itu semua harus baik dan penuh kasih.
Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menggunakan kata-kata kita sembarangan; menggosipkan orang, memfitnah, memaki-maki atau berkata-kata kotor dan kasar. Saya heran dalam generasi ini orang seakan terbiasa menggunakan kata-kata sembarangan, memanggil temannya dengan panggilan yang tidak pantas; anjing, monyet, babi, atau kata-kata semberono; begok, goblok, tolol dll. Dan hal itu sangat tidak pantas apalagi dipertontonkan dimedia atau dalam kehidupan hari-hari. Semua kata-kata itu sama sekali tidak membangun dan sama sekali tidak penuh kasih.
Ingat apa yang dikatakan Yakobus, lidah itu kecil tetapi jika salah digunakan sangat berbahaya, ia bisa membakar sebuah hutan. Dan itu mengerikan. Ia menimbulkan banyak masalah dalam diri orang itu dan orang lain.
Lidah bisa dipakai untuk membangun, menghibur, menguatkan, mengobati dan memberkati tetapi lidah yang sama bisa dipakai untuk menjauhhkan, menimbulkan penderitaan dan menghancurkan. Kata-katamu mencerminkan kualitasmu, siapa dirimu dan apa yang sebenrnya ada dalam lubuk hatimu.
Jadi hati-hatilah menggunakan kata-katamu, baik dalam bercanda, serius maupun jika sedang marah. Banyak keluarga hancur, hubungan hancur, gereja hancur dan pekerjaan, binis hancur kata-kata yang tidak baik.
4. Tidak Berkata-Kata dengan Hambar
jangan hambar (ayat 6b)
Perkataan seseorang harus seperti makanan yang dibumbui garam, memiliki rasa yang enak atau nikmat. Jangan hambar – tawar! Ingat apa kata Yesus dalam Matius 5:13, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Garam jika tawar maka tidak ada artinya. Jadi perkataan kita harus menyenangkan hati,membangkit hati dan harapan, membawa damai bagi orang lain dan membangun orang lain dan menguatkan hati orang lain. Efesus 4:29b. Jadi perkataan kita jangan membuat orang menjadi tawar hati; membuat orang kehilangan antusiasme dan semangat dalam daya juang. Harusnya orang yang patah semangat kita kuatkan. Orang yang sedih kita hiburkan. Orang yang mundur kita beri dorongan.
Berkata-katalah tidak sembarangan dan tidak sia-sia ada suatu kualitas yang kita berikan kepada orang lain. Karena kita ingin menyalurkan kebaikan dan anugerah Allah pada orang lain. Sebagaimana Kristus menjadi pengkuat bagi yang lemah, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28 Kita pun mau meneladani-Nya.
5. Dapat Memberi Jawab kepada Semua Orang
Saudara harus ingat bahwa kehadiran saudara di tengah dunia ini adalah bukan hanya untuk kesenangan diri saudara sendiri tetapi untuk kehidupan orang lain. Kita hadir untuk menjadi berkat; yaitu garam dan terang dunia ini, mewartakan kasih Tuhan.
Artinya imanmu, bukan hanya untuk dirimu sendiri dan hanya ada saat di gereja saja. Tetapi kita menyatakan iman kita kepada dunia ini. Ketika ada yang menanyakan tentang iman kita, tentang Yesus yang kita percaya, jangan malu memberikan jawab kepada orang yang belum percaya, bersaksilah kepada mereka, kita percaya Tuhan menolong kita melakukannya. Urusan dia membuka hati dan percaya kepada Tuhan, biarlah Roh Kudus yang membuka hatinya.
Kalau saudara belum merasakan kasih dan kemurahan Allah mustahil hal itu bisa dinyatakan kepada orang lain. Tetapi kalau saudara sudah merasakannya akan lebih murah bersaksi kepada orang lain tentang kebaikan Tuhan. Jangan malu dan takut bersaksi tentang iman kita. Jangan malu memberikan jawaban; kita lingkungan rumahmu, dikantormu dimana pun. Bersaksi tentang Tuhan adalah kesempatan yang istimewa dan berharga. Ingat satu jiwa diselamatkan seluruh malaikat surga bersukacita. Amin.
Pengkhotbah Pdt. Nikodemus Rindin



