Kolose 3:5-11

Manusia baru

3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang yang tidak taat). 3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; 3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Pendahuluan:

Apa yang membedakan kita sebagai orang Kristen dengan mereka yang bukan Kristen? Kita sebagai orang Kristen harus hidup sebagai mana Kristus Hidup? Bagaimana Kristus hidup? Ia memikirkan perkara-perkara surgawi, perkara yang menyenangkan hati Allah, bukan perkara duniawi. Yesus berkata bahwa makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa-Ku (Yoh 4:34).

Meski Yesus turun ke dalam dunia menjadi manusia tetapi dia tidak memfokuskan diri pada kehidupan yang duniawi, Dia memfokuskan diri untuk hidup bagi kerajaan surga.  Ketika Iblis menggoda-Nya, Yesus tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Iblis, bahwa Yesus berkata hanya kepada Allah kita harus berbakti atau beribadah.

Jadi Yesus menolak hal-hal yang duniawi. Apa itu hal-hal yang duniawi? Hal-hal yang duniawi adalah semua perkara yang semata-mata hanya berpusat untuk kepuasan daging semata dan terkadang orang tidak takut meskipun hal itu berlawanan dengan kehendak Tuhan.

Sifat seseorang sebelum dan setelah mengenal Kristus haruslah ada perbedaan. Seseorang yang sudah hidup di dalam Kristus haruslah hidup sesuai dengan kehidupan Kristus. Ia harus memikirkan hal-hal yang Yesus pikirkan dan melakukan hal-hal yang Yesus lakukan. Menerima yang Yesus terima, menolak yang Yesus tolak.

Apa yang Yesus pikirkan, lakukan dan terima? Yang Yesus pikirkan, lakukan dan terima adalah sesuatu yang sesuai kehendak Bapa, yang menyenangkan Bapa dan yang memuliakan dan meninggikan Bapa.  Maka Ia selalu memikirkan perkara di atas, perkara surgawi dan perkara yang mulia. Apakah hal yang sama menjadi pikiran dan kerinduan kita?

Apa yang Yesus tolak? Sesuatu yang duniawi, sesuatu yang mendukakan hati Bapa, yaitu dosa! Sebab upah dosa adalah maut. Dosa memisahkan seseorang dari hubungan dengan Bapa surgawi. Bahkan dosa membuat seorang tumpul dalam kerinduan terhadap perkara surgawi. Dan kehidupan dosa adalah sifat kehidupan orang-orang yang tidak taat, kehidupan orang-orang durhaka, kehidupan orang-orang yang belum mengenal Allah.

Dahulu sebelum mengenal Allah ia hidup mengikuti hawa nafsunya semata. Maka 1 Petrus 1:14, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat kepada Allah. Jangan turuti segala hawa nafsumu seperti yang kamu lakukan dahulu, pada waktu kamu masih belum mengenal Allah.”

Sekarang setelah hidup mengenal Allah maka dia belajar taat kepada Allah sebagai anak-anak Allah. Karena kita milik Allah yang telah mengalami kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Maka bagaimana wujud ketaatan kita kepadanya maka?

Mematikan segala sesuatu yang duniawi (5-7)

Alkitab berkata bahwa semua kita adalah orang berdosa, jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa maka menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam diri kita. Alkitab menunjukan secara jelas bahwa kita adalah orang berdosa dan tabiat dosa ada pada diri kita (Roma 3:9-20, 23; 5:12-14, 1 Yoh 1:8,10).  Sekarang sebagai anak-anak Allah kita tidak boleh lagi hidup dalam dosa karena Kristus telah menyucikan kita dari segala dosa (1 Yoh 1:7). Ini sebagai respon ketaatan kita kepada Allah yang telah memberikan anugerah-Nya kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Kita harus dipimpin oleh Roh Kudus bukan keinginan daging kita.

Kata matikanlah menggunakan kata Yunani nekroo artinya membunuh/bunuhlah. Ini suatu tindakan aktif. Apa yang perlu bunuh? Yang perlu dibunuh atau dimatikan adalah sifat-sifat dosa. Mengapa perlu dimatikan/dibunuh? Supaya dosa tidak terus hidup. Dimana dosa itu hidup? Dosa itu di dalam dirimu! Di dalam diriku! Dosa itu tidak tinggal dipohon, digunung atau digutan atau bukan di tempat yang lain atau di tempat orang lain. Dosa itu berurusan dengan engkau secara pribadi. Di dalam dirimu. Mungkin orang lain tidak tahu, tetapi dirimu dan Tuhan tahu dosa itu ada dan perlu dibereskan. Maka yang perlu kamu lakukan bukan menyembunyikannya atau menghidupkannya untuk menikmati kesenangan duniawi tetapi matikan, bunuh, habisi dia, sikat sampai ke akar-akarnya. Sebab kunci menjadi Kristen yang maksimal dan meraih kemenangan kita harus mematikan dosa. Kita ingin memakai tubuh kita menjadi alat kebenaran bukan alat

Apa yang ditimbulkan dosa? Perbuatan-perbuatan yang duniawi atau perbuatan-perbuatan daging apa yang diakibatkannya? Dosa menimbulkan atau mengakibatkan sesuatu yang merusak seseorang:

Percabulan atau ketidakmoralan merujuk pada setiap tindakan seksual yang melanggar hukum. Dan untuk menyederhanakan semuanya, hanya ada satu tindakan seksual yang sah, yaitu hubungan seksual antara seorang pria dan seorang wanita yang sudah menikah; hanya itu. Jadi, apa pun selain itu adalah melanggar hukum dan termasuk dalam kategori ketidakmoralan. Tuhan melarang segala bentuk aktivitas seksual selain antara seorang pria dan seorang wanita dalam pernikahan. Tetapi kita hidup di dunia yang telah lama mengabaikan hal itu. Kita hidup di dunia di mana hampir semua tindakan seksual antara siapa pun dari jenis kelamin apa pun tidak hanya diterima, tetapi pada dasarnya dipuji sebagai tindakan identitas pribadi, realitas, dan keaslian. Tetapi Tuhan mengatakan bahwa satu-satunya tindakan seksual yang dapat diterima adalah antara seorang pria dan seorang wanita yang telah menikah.

Kenajisan berarti ketidakmurnian. Yesus berkata, “Yang keluar dari dalam manusia, itulah yang menajiskan manusia.” Jadi, ketika Anda melihat perilaku yang menajiskan, itu berasal dari sesuatu di dalam diri manusia. Markus 7:20-21. “Sebab dari dalam, dari hati manusia, keluarlah pikiran-pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, perbuatan-perbuatan tamak dan kejahatan, serta tipu daya, hawa nafsu, iri hati, fitnah, kesombongan dan kebodohan. Semua hal ini berasal dari dalam dan menajiskan manusia.” Masalahnya bukan di luar diri kita, melainkan apa? Masalahnya ada di dalam diri kita. Perbuatan amoral adalah produk dari pikiran jahat. Perilaku seksual adalah hasil dari pikiran-pikiran berdosa secara seksual.

Hawa nafsu atau gairah menggambarkan sesuatu yang tersembunyi di balik pikiran-pikiran kotor. Itu semacam gemuruh dari lubuk hati kita, sesuatu yang terpendam dalam diri kita. Itu mencerminkan api yang mengakar dalam diri kita yang mudah berkobar menjadi nyala api.

Lalu kata “keinginan jahat” atau nafsu jahat. Ia masuk lebih dalam ke dalam diri kita yang sebenarnya. Kita rentan terhadap nafsu karena tertanam dalam daging kita yang jatuh adalah keinginan jahat. Yohanes menyebutnya “nafsu daging, nafsu mata, dan kesombongan hidup.” Yakobus 1:14,15 mengatakan bahwa dosa bermula di dalam kategori-kategori itu, di dalam gua-gua nafsu yang dalam itu. Itu tidak selalu sesuatu yang dirangsang oleh sesuatu yang kita lihat, itu adalah siapa kita sebenarnya.

Apa yang mengaktifkan keinginan jahat, yang membangkitkan nafsu, yang mengarah pada pikiran kotor dan perilaku tidak bermoral? yaitu “keserakahan,” atau ketamakan.

Ketamakan atau keserakahan adalah dosa terakhir yang tercantum dalam Sepuluh Perintah Allah, sebenarnya itu adalah motif dasar dari semua dosa. Di balik semua dosa lainnya. Itulah yang menyebabkan kejatuhan Setan. Dia serakah; dia menginginkan tempat Allah. Itu adalah keinginan untuk memiliki lebih banyak; dan dalam kasus kejatuhan manusia, itu adalah keinginan untuk memiliki lebih banyak sesuatu yang tidak berhak kamu miliki. Yesus menganggap hati yang tamak sebagai sumber dari mana semua kejahatan muncul.

Setiap dosa berasal dari hal ini. Alasan seseorang melakukan dosa apa pun adalah karena ia telah memutuskan untuk melakukan apa yang tidak berhak Anda lakukan. Anda akan mengambil apa yang tidak berhak Anda ambil; itulah dosa. Dan Yesus berkata bahkan dalam keinginan pun adalah dosa, Matius 5 , “Jika seorang laki-laki memandang seorang perempuan dengan nafsu, ia berzinah dalam hatinya.”

Dan menariknya Paulus menyebutkan dengan tegas bahwa keserakahan dan ketamakan adalah sama dengan penyembahan berhala. Apa itu penyembahan berhala? Menyembah sesosok lain selain Tuhan. Dan apa yang dilarang dalam sepuluh perintah Allah? “Jangan ada allah lain.”

Jadi, penyembahan berhala adalah akar dari semua dosa. Ketika menginginkan dan menaklukan diri pada  apa yang kita inginkan. Lalu yang kita inginkan menjadi penguasa. Maka ingatlah, itulah yang dinamakan penyembahan berhala.

Ketika saudara mencari keinginanmu dan bukan kehendak Tuhan. Itu adalah penyembahan berhala, dan Anda telah menggantikan Tuhan. Anda menyembah diri sendiri; Anda menjadi serakah untuk memuaskan diri sendiri; Anda mulai menginginkan apa yang bukan hak Anda. Itu muncul dari keinginan jahat Anda dan membangkitkan nafsu, mulai beredar dalam pikiran, dan kemudian muncul dalam perilaku.  Jadi tabiat dosa pada posisi terendah hanya untuk memuaskan diri tetapi pada posisi tertinggi yaitu menggeserkan Tuhan dari hidupmu.

Perbuatan demikian harus dimatikan karena mendatangkan murka Allah. Mendatangkan kemarahan Allah dan hukuman Allah. Allah kita adalah Allah yang penuh cinta kasih tetapi kita melihat bahwa Allah kita adalah Allah yang kudus maka Dia menghukum dosa dan kejahatan manusia.

Dahulu tabiat dosa ada di dalam hidup seorang berdosa. Dan kita pun ada di dalamnya. Tetapi sekarang setelah kita hidup di dalam Kristus harusnya tabiat dosa itu tidak lagi ada. Tetapi sekarang kita sebagai manusia baru harus membuang segala sesuatu yang duniawi. Dampak dari dosa adalah mendatangkan murka Allah atau kemarahan Allah (ay.6).

Membuang segala sesuatu yang duniawi (8-10)

Kata membuang berarti menganggalkan, menyingkirkan, menjauhkan atau memisahkan diri dari semuanya itu. Dalam hal ini kita untuk benci kepada semua dosa, semua ketidakadilan, semua yang menyinggung Allah. Apa hal yang harus kitab uang?

Kemarahan. Kemarahan yang terpendam dan membara ini adalah bentuk penyembahan berhala; kamu menyembah dirimu sendiri, bukan Tuhan. Itu meledak dalam amarah. Itulah thumos, suatu kobaran amarah yang tiba-tiba. Kamu memulai dengan kemarahan yang mendalam yang ada di dalam hatimu yang menyembah diri sendiri, dan itu meledak. Orang Yunani menggunakan kata ini untuk menggambarkan jenis api yang membakar rumput atau jerami dengan cepat. Berkaitan dengan cara berbicara, memfitnah. Fitnah menghasilkan ucapan kasar, perkataan kotor.

Orang yang baik harusnya mengeluarkan perkataan yang baik dari mulutnya, bukan kata-kata finah dan kotor dan penuh kemarahan. Itu yang Yesus katakana dalam matius 12.

ayat 9, “Janganlah kamu saling berbohong.” Kebohongan adalah suatu masalah besar, kebohongan adalah pelindung pemujaan diri. Setan berbohong dalam menipu Hawa. Adam dan Hawa berbohong kepada Tuhan untuk menghindari tanggung jawab. Kain berbohong kepada Tuhan tentang saudaranya. Abraham berbohong kepada Sarah. Sarah berbohong kepada para malaikat. Sarah berbohong kepada raja Gerar. Ishak berbohong, menyangkal bahwa Ribka adalah istrinya. Ribka berbohong dalam konspirasi melawan Esau. Anda masih berada di kitab Kejadian dan Anda menemukan – semua orang adalah pembohong. Anda bahkan belum keluar dari kitab Kejadian; karena Setan adalah bapak kebohongan.

Ayat 9 menegaskan bahwa kita melihat posisi manusia baru. Posisi manusia baru ditunjukkan dengan jelas. Anda adalah manusia baru dan bukan manusia lama. Anda memiliki identitas yang luar biasa di dalam Kristus dan identitas ini sangat berbeda sama sekali. Anda berjalan dalam kasih; Anda berjalan dalam terang; Anda berjalan dalam kebijaksanaan dan kebenaran Tuhan. Anda adalah ciptaan yang sepenuhnya baru. Hal-hal lama telah berlalu. Sekarang yang baru telah dalam dan tinggal di dalam dirimu. Identitas yang baru dan posisi yang baru.

Kemajuan dari manusia baru bisa terlihat jelas, yaitu dalam ayat 10: “Dan telah mengenakan manusia baru yang diperbarui dalam pengetahuan menurut gambar Dia yang menciptakannya.”  Jelas bahwa yang menggerakan Langkah kita bukan lagi keinginan kita, tetapi sang pencipta kitalah yang menentukannya.

Gambarannya adalah seperti seorang anak bayi yang lahir dalam keluargamu. Ia seorang bayi kecil, kadang-kadang mirip terlihat seperti ayahnya, atau ibunya. Tetapi kamu tahu itu anakmu. Semua bagian tubuhnya berada di tempat yang tepat, dan ia mulai tumbuh, dan tumbuh, dan tumbuh semakin mirip dan mirip dengan orang tuanya.  Bisa dari segi fisik atau karakternya.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Anda dilahirkan kembali. Anda adalah manusia baru dan memiliki kehidupan baru; Anda adalah ciptaan yang benar-benar baru. Tetapi harus ada kemajuan. Harus ada pertumbuhan. Harus ada pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Anda melihatnya dalam ayat 10, sampai pada titik di mana Anda benar-benar berada dalam gambar Dia yang menciptakan Anda, di mana Anda menjadi seperti Yesus Kristus dalam segala hal. Dan Allah terus menerus mengukir hidup anda. Memperdalam gambar itu dari hari ke hari.

Kristus di dalam Kita dan Kristus dimuliakan (11)

“Di mana tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, sunat atau tidak sunat, orang barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka; tetapi Kristus adalah semua dan di dalam semua.” Ini menunjukan tentang sifat manusia baru, tidak lagi ada pembatasan hubungan adanya cara baru dan pikiran baru di dalam Kristus. Adanya penghapusan semua batasan lama, batasal fanatisme rasial, kesombongan budaya. Tidak ada tempat untuk semua itu. Tuhan telah menjadikan kita semua manusia baru. Jadi semua orang harus kita kasihi, kita jangkau, kita layani dan kita perhatikan.

Intinya “Orang Yunani milik Kristus,” “Orang Yahudi milik Kristus,” “Orang Barbar milik Kristus,” “Orang Skit milik Kristus,” “Budak milik Kristus,” “Orang Merdeka milik Kristus,”  Dan menariknya Kristus mengasihi mereka semua. Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita tidak boleh hanya mengasihi dan melayani hanya satu suku saja yang kita suka atau sesuai dengan keinginan kita.

Jadi, lihat apa yang dia katakan. “Tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, sunat atau tidak sunat, orang barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka; tetapi Kristus adalah segalanya, dan di dalam segalanya.” Seketika kita percaya kepada Tuhan sebagai manusia baru maka seketika itu juga ia menjadi manusia baru dan semua jenis orang dalam gereja adalah saudara seiman dalam Kristus.

Kristus tinggal pada masing-masing orang tersebut dan Kristus mengasihi masing-masing mereka. Kristus dimuliakan oleh mereka semua yang percaya kepada-Nya. Tidak ada lagi budak – orang kaya. Tidak ada lagi Yunani – Yahudi. Ingat Filemon dan Onesimus, mereka tidak setara dalam kehidupan jasmani tetapi setara di dalam Tuhan.

ayat 11: “Kristus adalah” – apa? “Kristus adalah segalanya. Jika Kristus ada di dalam kita semua, maka kita semua setara. Itulah kuncinya. Kristus adalah segalanya, dan di dalam segalanya. Kristus, Tuhan dan Juruselamat yang mahakuasa, Kristus Raja yang mahakuasa, berdiam di dalam semua orang percaya. Dan karena Ia berdiam di dalam semua orang percaya, Ia menghapus perbedaan: Ia menghapus ras, Ia menghapus agama, Ia menghapus budaya, Ia menghapus tingkatan sosial, dan Ia menjadikan kita satu manusia baru – sekelompok besar manusia baru yang menjadi satu manusia baru.

Dan Dialah yang menjamin penciptaan itu. Dialah yang menjamin kesempurnaan bertahap manusia baru itu menuju pengetahuan penuh yang setara dengan keserupaan dengan Kristus. Dan inilah pernyataan besar Paulus di seluruh kitab Kolose: “Kristus adalah segalanya.” Kristuslah yang memberi Anda kedudukan baru ini, yang mewujudkan kemajuan baru untuk menjadi seperti Dia, yang memberi Anda hubungan yang baru satu sama lain. Amin

Pengkhotbah: Pdt. Nikodemus Rindin

Author admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *