20:17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: 20:18 “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. 20:19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Matius 20:17-19
Pendahuluan
Ini adalah nubuat ketiga dan terakhir dari Tuhan kita mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Yang pertama, Dia berikan kepada para murid-Murid-Nya dalam16:21. Yang kedua, dalam 17:22 dan 23. Dan ini adalah nubuat ketiga dan terakhir. Yang kedua menambahkan detail pada yang pertama, dan yang ketiga menambahkan detail pada yang kedua. Ini adalah nubuat yang lebih lengkap daripada nubuat-nubuat lainnya.
Iman Kristen dan Firman Tuhan berpusat pada kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Ini kebenaran Kristen yang paling penting. Paulus berkata, “jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah imanmu, dan kamu masih berada dalam dosa-dosamu.” 1 Kor 15:17.
Penderitaan Yesus Kristus bukanlah suatu kecelakaan. Penderitaan Yesus Kristus bukanlah kesalahan perhitungan. Itu bukanlah kejutan bagi-Nya; itu sama sekali bukan suatu guncangan. Sebaliknya, Ia memberikan di sini secara rinci dan tepat apa yang akan terjadi pada-Nya. Mengapa itu terjadi? Yesus berkata, “Karena Dia harus mengerjakan perkerjaan Bapa-Nya” Yoh 4:34. Dan Yesus mengerjakannya hingga selesai di kayu salib. Yoh 19:20. Dia tahu apa yang sedang Dia kerjakan dalam dunia ini setiap detailnya, dan Dia tahu kapan Dia telah menyelesaikannya; dan Dia menyelesaikannya dalam kematian-Nya.
Yesus ingin para murid memahami hal ini. Selama ini mereka begitu terfokus pada kemuliaan kerajaan, kemuliaan Mesias; nubuat-nubuat mereka pahami dengan baik. Mereka tidak memahami bahwa Mesias akan menderita. Murid-murid mencari seekor singa dari Yehuda, mereka tidak tahu bahwa mereka membutuhkan seekor domba yang kelu. Yesus mengetahuinya. Karena itu, Dia memanggil mereka dan menyampaikan hal ini untuk ketiga kalinya. Suatu hal yang peting harus disampaikan berulang-ulang.
Kristus yang Menderita Sengsara demi Umat-Nya (17-18)
Ketika dalam perjalanan menuju Yerusalem, Ia memangil kedua belas murid tersendiri dan berkata kepada mereka, “Sekarang, kita pergi ke Yerusalem.” Kalimat ini menunjukan bahwa Dia tahu apa yang Dia akan lakukan, bahwa pergi ke Yerusalem. Ini menunjukkan tekad dan keyakinan dan kebulatan hatinya. Ia tahu apa yang dijalani-Nya. Dalam Lukas 9:51 menyatakan bahwa, “Dan Ia menetapkan tekad-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” Yesus menyelesaikan pelayanan di daerah Galilea, lalu menyeberangi Yordan, Yerikho lalu menuju Yerusalem. Dan hanya tinggal beberapa hari lagi sampai Ia menghadapi penderitaan, kematian, dan kebangkitan. Sekarang mereka bergerak dalam perjalanan menuju Yerusalem.
Dan menariknya,Markus 10:32 memberi kita kisah paralel tentang hal ini. Dan Markus berkata, “Murid-murid itu” – dan dia menggunakan dua kata – “tercengang, heran dan takut.” Mereka tercengang/heran dan takut. Dan alasannya adalah karena mereka tahu permusuhan kaum bangsawan Yerusalem. Mereka tahu bahwa baik imam kepala maupun ahli Taurat, mereka memusuhi Kristus. Mereka memiliki cukup pengalaman untuk mengetahui hal itu. Mereka telah beberapa kali berkonflik dengan orang-orang ini, terutama orang-orang Farisi. Dan mereka benar-benar tidak melihat gunanya untuk langsung pergi ke Yerusalem. Mereka juga tahu bahwa di situlah letak pusat pemerintahan Romawi.
Kata tercengang/kagum bukan karena kekaguman tetapi arti dalam Bahasa aslinya adalah mereka bingung, kacau, tidak mampu memahmi situasi tersebut. Kebingungan mereka disertai rasa takut, cemas, mereka bertanya-tanya mengapa Yesus pergi ke Yerusalem padahal Dia tahu orang-orang di sana membenci-Nya dan ingin mengambil nyawa-Nya. Tetapi Dia sangat teguh, dan alasannya adalah karena inilah rencana-Nya “Inilah rencana-Nya: kita pergi ke Yerusalem”. Kristus akan menderita.
Namun menariknya meski murid-murid gentar, tetapi Yesus berjalan di depan mereka semua. Yesus menghadapi dengan teguh, berani bergerak menuju kematian-Nya sendiri demi para murid ini, meski mereka semua takut dan takjub, meringkuk di belakang, tertinggal di belakang-Nya, mencampuradukkan antisipasi harapan akan kerajaan dengan ketakutan akan kematian, dan tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi.
Lukas 18:31 menyatakan “Lihatlah, kita akan pergi ke Yerusalem, dan segala sesuatu yang telah ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.” Jadi Dia berkata, “Kita harus pergi, karena itu adalah rencana kenabian.” Jadi, penderitaan Yesus bukanlah suatu kebetulan. . Hal ini telah dinubuatkan oleh banyak nabi. Rencana penebusan Allah sudah banyak tertulis dalam kitab para nabi di perjanjian lama. Hal ini kedengaran aneh bagi para murid, tapi tidak aneh bagi Yesus.
Dalam Zakharia 9:9 mengatakan bahwa Ia akan masuk ke Yerusalem. Mazmur 2 mengatakan bahwa Ia akan mengetahui kemarahan dan amarah musuh-musuh-Nya. Zakharia 13:7 mengatakan bahwa Ia akan ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya. Zakharia 11:12 mengatakan bahwa pengkhianatan-Nya akan dilakukan dengan imbalan tiga puluh keping perak. Mazmur 22:16 mengatakan bahwa Ia akan ditusuk di kayu salib; tangan dan kaki-Nya. Keluaran 12:46 mengatakan bahwa tidak satu pun tulang-Nya akan patah; juga Mazmur 34:20 .
Mazmur 22:18 mengatakan bahwa pakaian-Nya akan dibagi-bagi dengan cara mengundi. Mazmur 69:21 mengatakan bahwa Ia akan diberi cuka untuk diminum. Mazmur 22:1 mengatakan bahwa Ia akan berseru kesakitan karena penderitaan. Zakharia 12:10 mengatakan bahwa mereka akan menusuk-Nya. Dan Mazmur 16:10 mengatakan bahwa Ia akan bangkit dari antara orang mati. Mazmur 110:1 mengatakan bahwa Ia akan naik ke surga.
Semua hal itu adalah bagian dari nubuat para nabi Perjanjian Lama. Dan jika sudara menginginkan penjelasan rinci tentang penyaliban Yesus Kristus, bacalah Mazmur 22, Yesaya 53, dan nubuat Zakharia, dan Saudara akan menemukan di sana deskripsi eksplisit tentang semua detail kematian Tuhan kita di kayu salib. Jadi ketika Dia pergi ke Yerusalem, Dia tepat waktu, sesuai target, sesuai rencana – tanpa penyimpangan sama sekali. Tidak ada sesuatu yang salah pada-Nya.
Mesias harus mati untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kematian Yesus Kristus adalah peristiwa utama dalam sejarah dan juga peristiwa utama dalam Alkitab. Mengapa Yesus mau dan harus mati bagi kita?
Kita bisa melihat dalam kejadian 3, pertama-tama dosa Adam dan Hawa dan akibatnya semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Upah dosa adalah maut tetapi Karunia Allah adalah hidup yang kekal di dalam siapa? Di dalam Yesus Kristus. Roma 6:23.
Akibat dosa, pertama, membuat manusia teputus hubungan dengan Tuhan. Mereka menyembunyikan diri, terasing. Hal kedua yang terjadi adalah mereka langsung menyadari bahwa mereka apa? Mereka telanjang. Dan Tuhan datang dan memberi mereka pakaian. Dan untuk memberi mereka pakaian dari kulit binatang, harus ada kematian. Maka binatang harus disembelih untuk membuat pakaian bagi mereka. Untuk menutupi rasa malu mereka.
Kita dapat mendengar suara-suara lembut pertama dari apa yang kemudian menjadi simfoni Perjanjian Lama, bahwa rasa bersalah, malu, dan keterpisahan ditutupi oleh pengorbanan. Pengorbanan adalah satu-satunya cara untuk mengatasi rasa bersalah dan keterpisahan dari Tuhan. Kita menemukan bahwa itu bukan ramalan verbal Yesus Kristus, tetapi sebuah pengaktifan kebenaran yang menuntut Anak Domba Paskah yang utama.
Sekarang, jika Anda menelusuri lebih jauh tulisan Musa dan sampai pada Kejadian 22 , Anda akan menemukan unsur kebenaran pengorbanan yang agung dan mendalam kedua yang diajarkan. Allah memberi Abraham seorang putra bernama Ishak, yang kepadanya semua harapannya tertumpu. Ia akan menjadi keturunan yang darinya akan lahir generasi manusia yang jumlahnya sebanyak pasir di laut dan bintang-bintang di langit. Sebuah janji Abraham terikat pada Ishak.
Dan ketika Tuhan datang kepada Abraham dan berkata, “Aku ingin engkau membunuh anakmu,” Anda dapat melihat kehancuran semua harapan dan impiannya, dan semua hal yang telah dijanjikan dan direncanakan Tuhan. Namun Abraham benar-benar setia dan berkomitmen untuk melakukan apa yang dikatakan Tuhan. Jadi dia memikul seikat kayu di punggung Ishak, dan mereka berangkat menuju bukit pengorbanan yang dikenal sebagai Gunung Moria. Mereka sampai di sana, dan Ishak meletakkan kayu-kayu itu, lalu Abraham menurunkan Ishak di atas mezbah yang telah disiapkan, dan mengangkat pisau untuk menusukkannya ke jantung anak kesayangannya. Dan pada saat itu, Tuhan menghentikan lengannya, dan dia mendengar suara domba jantan di semak-semak; dan dia pergi, mengambil domba jantan itu, dan mengorbankannya; dan Tuhan menyelamatkan anaknya.
Dan hal yang menopang Abraham, menurut Ibrani 11, dan membuatnya sampai pada titik di mana ia rela melakukan itu adalah karena ia percaya bahwa Allah akan membangkitkan Ishak dari kematian. Begitu teguhnya ia kepada Allah untuk menepati janji-Nya sehingga ia berpikir dalam benaknya, jika Allah berkata, “Bunuh dia,” maka Allah harus membangkitkannya dari kematian untuk memenuhi firman-Nya sendiri. Dan ia percaya bahwa Allah adalah Allah yang menepati firman-Nya, jadi ia rela mengambil nyawa anaknya agar Allah dapat membangkitkannya dari kematian. Tetapi Allah menahan tangannya dan menyediakan seekor domba jantan. Itulah kebenaran mendalam kedua tentang penebusan yang diajarkan dalam kitab Kejadian, yaitu penggantian. Allah akan menyediakan pengganti.
Dan tertulis dalam Kejadian 22:14 bahwa Abraham menamai tempat itu “TUHAN akan menyediakan.” Tuhan akan menyediakan. “Di Gunung TUHAN” – tertulis – “akan disediakan.” Jadi kita belajar bahwa dosa, rasa malu, dan rasa bersalah hanya dapat diatasi dengan pengorbanan, dan Tuhan akan menyediakan pengorbanan.
Sekarang, jika Anda menelusuri lebih jauh kisah rencana penebusan Allah yang terungkap, Anda akan sampai pada pasal dua belas Kitab Keluaran, dan Anda akan mendapatkan prinsip besar ketiga yang berkaitan dengan pengorbanan penebusan. Allah berkata, “Aku akan mengirim malaikat maut ke seluruh Mesir, dan ia akan membunuh anak sulung dari setiap rumah. Jika kamu ingin dilindungi, kamu harus mengorbankan seekor domba yang tidak bercacat, tanpa noda, domba yang murni. Oleskan darahnya pada tiang pintu dan ambang pintu; malaikat maut yang melihat itu akan lewat di dekatmu.” Dengan kata lain, “Kamu akan diselamatkan dari penghakiman dengan mempersembahkan kurban darah.”
Hal ini mengulangi apa yang telah kita pelajari dalam Kejadian 3 , bahwa dosa harus ditangani dengan pengorbanan. Ini juga mengulangi apa yang telah kita pelajari dalam Kejadian 22 , bahwa pengorbanan dapat menggantikan orang yang bersalah. Tetapi kemudian, hal ini menambahkan dimensi ketiga yang sangat penting pada kebenaran penebusan, yaitu bahwa pengorbanan itu harus tanpa cela, harus murni. Jadi pengorbanan menjadi cara hidup. Mereka memberikan pengorbanan berdarah setiap hari, setiap tahun.
Dari Adam dan Hawa, kita belajar bahwa pengorbanan menutupi kesalahan dosa. Dari Abraham, kita belajar bahwa pengorbanan itu dapat menjadi pengganti yang akan disediakan Allah. Dari Paskah, kita belajar bahwa pengorbanan itu harus tanpa cela, tanpa noda. Dan akhirnya, dari sentralitas pengorbanan dalam hukum Taurat, kita belajar pentingnya pengorbanan dalam kehidupan penyembahan. Tidak akan ada penyembahan kepada Allah tanpa pengorbanan, sama sekali tidak. Dan itulah mengapa persembahan pertama dari lima persembahan adalah persembahan bakaran, dan persembahan bakaran itu sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah.
Jadi, Tuhan kita berkata, “Kita akan pergi ke Yerusalem.” Para murid berpikir, “Kita akan pergi ke sana untuk Paskah.” Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa mereka akan pergi ke sana dengan Anak Domba Paskah. Dan Yesuslah Anak Domba. Yohanes berkata, Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Kristus yang akan bangkit Memberi Kehidupan kepada umat-Nya (19)
Paulus dalam 1 Korintus 15 mengatakan bahwa, “Ia telah mati, dikuburkan, dan bangkit kembali menurut” – apa? – “Kitab Suci.” Dan seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:11 , para nabi memperhatikan apa yang mereka tulis, dan mereka melihat dua hal: mereka melihat penderitaan dan kemuliaan yang akan menyusul. Dan jika Anda tidak melihat keduanya, Anda akan melewatkannya.
Itulah mengapa orang Yahudi bahkan sampai sekarang belum mengenal Yesus sebagai Mesias mereka, karena yang mereka lihat hanyalah kemuliaan, mereka tidak memahami penderitaan-Nya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa dengan Mazmur 22 , mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan Yesaya 53 , dan mereka juga tersesat dalam kitab Zakharia; karena jika Anda tidak melihat penderitaan, Anda tidak dapat memahami Kristus.
Yesus mengetahui gambaran detail tentang pengkhianatan, diserahkan kepada imam kepala, ahli Taurat, dihukum mati, diserahkan kepada orang-orang kafir di mana Dia akan diejek. Matius 27;30, dan Lukas menambahkan, “Dia akan diludahi.” Dia berkata, “Aku akan diludahi.” Bagaimana Dia mengetahui semua itu? “Dan kemudian Aku akan dicambuk, lalu disalibkan, dan kemudian bangkit kembali.” Mengapa Dia tahu? Karena Dia adalah Tuhan atas sejarah. Dialah yang mengatur sejarah dan sejarah ada dalam kedaulatan tangan-Nya.
Yesus berkata bahwa Anak manusia akan diserahkan atau dikhianati, siapa yang melakukan penghianatan? Yudas. Siapakah Yudas, dia adalah salah satu dari pengikut Kristus – murid-Nya. Yudas menyerahkan Yesus dengan cara pengkhianatan yang keji, ciuman.
Dan Ia menyerahkan para imam kepala – para imam kepala di antara para imam, dan jumlah mereka ribuan. Para imam kepala adalah yang berada di tingkatan atas. Ada orang-orang Lewi; mereka berada di bagian bawah hierarki imam. Dan kemudian ada para imam biasa. Dan ada orang yang memimpin ibadah harian, orang yang memimpin ibadah mingguan. Dan kemudian ada semacam kepala bait suci, dan kemudian ada imam besar. Dan orang-orang di puncak hierarki dikenal sebagai imam kepala. Jadi para imam kepala ini adalah aristokrasi turun-temurun. Mereka berada dalam garis keturunan imam; mereka mendapatkan pangkat mereka melalui keturunan.
Mereka juga didampingi oleh para ahli Taurat, yang memperoleh kedudukan mereka bukan karena keturunan, tetapi karena pengetahuan. Mereka memperoleh pengetahuan dengan mempelajari hukum. Mereka adalah para ahli hukum, dan tidak seorang pun dapat menafsirkan apa pun tanpa mereka. Sama seperti sekarang, jika Anda ingin menafsirkan hukum apa pun, jika Anda terlibat dalam situasi hukum apa pun, Anda harus memiliki pengacara. Nah, begitulah keadaannya saat itu. Dalam upaya menafsirkan hukum Musa, mereka harus memiliki “pengacara,” dalam tanda kutip, yang sebenarnya adalah para ahli Taurat yang dapat mendampingi dan menjelaskan makna hukum, menafsirkan hukum, dan sebagainya.
Jadi, ada aristokrasi turun-temurun, dan ada aristokrasi pengetahuan, dan mereka membentuk kelompok orang yang pada akhirnya menghukum Yesus Kristus hingga mati, karena Dia sangat mengancam keamanan sistem mereka. Nah, Yesus melihat diri-Nya dikhianati kepada mereka, kepada badan eksekutif imamat bait suci, diserahkan. Dan memang, itulah yang terjadi; Yudas mengkhianati-Nya. Para imam hanyalah penolak Kristus yang berada dalam posisi untuk melakukan pengadilan palsu dan mengejek, dan menghukum-Nya hingga mati. Dan itulah yang Dia lihat terjadi, dan itulah yang benar-benar terjadi. Ini bukan kejutan. Ini persis seperti yang direncanakan, dan Dia meramalkan detailnya.
Jelas sekali mereka tidak bisa membunuh-Nya karena orang Romawi telah mencabut hak mereka untuk melakukan itu, jadi mereka harus menyerahkan-Nya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, ayat 19. Pada akhirnya tuduhannya adalah bahwa Dia berbicara menentang Kaisar dan sebagainya, karena mereka tahu bahwa orang Romawi tidak akan menyukai itu. Mereka menyerahkan-Nya kepada orang-orang kafir, karena orang-orang kafir, orang Romawi, memiliki hak untuk mengeksekusi, dan hanya mereka yang dapat mengambil nyawa-Nya.
Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya, tetapi akhirnya menyerah dan menyalibkan-Nya
Mereka mengejek-Nya. Mengolok-olok Dia, mereka menaruh sebatang buluh di tangan-Nya, memasangkan mahkota duri di kepala-Nya, meludahi-Nya, dan mereka mencemooh-Nya. Kemudian mereka mencambuk-Nya. Mereka melukai punggung-Nya dengan tali kulit yang di ujungnya terdapat potongan tulang dan logam. Dan mereka menertawakan-Nya. Dan, pada akhirnya, mereka menyalibkan-Nya. Dan semua detailnya ada di sana.
Yesus menanggung penderitaan bukan karena perbuatannya. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2Kor 5:21). Yesus menanggung dosa orang lain, Yesus menanggung penderitaan dan kesedihan yang harus tidak Dia tanggung. Tetapi yang harusnya kita tanggung.
Yesaya 53:6, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”
Apakah itu akhir kisahnya? Tidak! Dia bangkit dari kematian. Dia telah membayar lunas hutang dosa kita. Dia telah hidup dan kita memiliki harapan di dalam Dia.
Paulus berkata, “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Kor 15:57-58.
Hanya di dalam Kristus kita memiliki harapan dan persekutuan dengan-Nya tidak pernah sia-sia! Amin.
Pengkhotbah: Pdt. Nikodemus Rindin



