Pendahuluan
Keluarga adalah unit terkecil dan paling penting di dalam gereja dan masyarakat. Keluarga yang sehat dan kuat akan menghasilkan gereja yang sehat dan kuat. Pernikahan adalah relasi yang paling unik di dunia: di mana seorang pria dan seorang wanita mengabdikan diri satu sama lain untuk selamanya dalam hubungan yang paling dekat di bumi.
Tuhan menggambarkan pernikahan sebagai seorang pria dan seorang wanita menjadi satu daging. Tidak ada hubungan lain di bumi yang digambarkan seperti ini. Selain keputusan untuk mengikut Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, dengan siapa saudara-saudari menikah adalah keputusan terpenting yang akan saudara-saudari buat dalam hidup ini, karena pernikahan bersifat seumur hidup dan merupakan relasi yang paling intim.
Tuhan membenci perceraian. Hanya ada dua alasan yang Tuhan izinkan untuk perceraian: pertama adalah perzinahan menurut Matius 19:9. Yang kedua adalah ketika pasangan yang tidak percaya menghendaki perceraian, menurut dalam 1 Korintus 7:15. Pernikahan adalah seumur hidup dan merupakan relasi yang paling intim. Ini adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup. Dampaknya akan berlangsung sepanjang hidup saudara di dunia ini.
Pernikahan yang baik akan memberikan sukacita yang besar. Amsal 18:22 katakan, “Siapa mendapat istri, mendapat bahagia, dan ia disenangi TUHAN.”
Namun pasangan yang buruk akan membawa penderitaan yang luar biasa. Amsal 21:9 katakan, “Lebih baik tinggal di sudut sotoh rumah daripada serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” Jadi, siapa yang saudara pilih untuk dinikahi adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup ini.
Mari kita melihat apa yang Tuhan katakan tentang pernikahan, dan peran suami serta istri dalam Kolose 3:18–19. Sekalipun saudara belum menikah, saudara perlu mendengarkan firman Tuhan tentang pernikahan dan peran suami serta istri, supaya saudara dapat mempersiapkan diri menjadi suami atau istri yang Tuhan kehendaki. Juga supaya saudara mengetahui seperti apa suami atau istri yang Tuhan ingin saudara cari.
Nah, ingat konteks Kolose 3:18–19. Kitab Kolose dimulai dengan Injil dan Yesus, dengan keselamatan kita.
Melalui iman kita kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita dipersatukan dengan Dia. Dosa-dosa kita diberikan kepada-Nya, dan kebenaran-Nya yang sempurna diberikan kepada kita. Kita telah menjadi anak-anak Tuhan. Kita telah dibangkitkan bersama Kristus. Roh Kudus yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati sekarang tinggal di dalam kita.
Ia telah membangkitkan hati kita dengan memberikan hati yang baru. Kita sekarang adalah manusia baru, sambil menantikan tubuh kebangkitan kita ketika Yesus datang kembali. Hidup kita telah diubahkan secara radikal. Kita memiliki hidup baru yang mulia di dalam Kristus.
Nah, setelah kita diselamatkan, itu tidak berarti kita hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa sambil menantikan kedatangan Yesus kembali. Masih ada dosa yang tersisa dalam diri kita, sehingga Tuhan sekarang ingin menyingkirkan dosa-dosa ini agar Ia dapat memulihkan gambar ilahi yang telah rusak di dalam kita.
Tuhan memulihkan kita melalui pengajaran firman-Nya dan oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana dinyatakan dalam Kolose 3:10, “mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya.”
Ingat, dalam Kolose 1:10, Tuhan menghendaki kita hidup berkenan kepada-Nya. Sebelum kita diselamatkan, gambar ilahi kita rusak karena tujuan utama kita adalah menyenangkan diri sendiri, bukan Tuhan. Tetapi sekarang, sebagai anak-Nya, tujuan utama hidup kita haruslah untuk hidup berkenan kepada Tuhan.
Sifat ini akan memulihkan gambar ilahi kita. Aspek pertama dalam hidup kita yang harus berkenan kepada Tuhan dan memulihkan gambar ilahi kita adalah karakter kita. Karakter adalah siapa kita yang sebenarnya di dalam hati. Karakter kita telah dirusak oleh dosa, sehingga kita perlu memulihkannya.
Apa saja dosa-dosa karakter ini?
Seperti yang telah dikhotbahkan oleh Pendeta Niko sebelumnya, dosa-dosa ini disebutkan dalam Kolose 3:5: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan, yang adalah penyembahan berhala. Kita juga harus menanggalkan marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor. Kita juga harus berhenti saling mendustai.
Semua ini adalah dosa-dosa karakter. Semua itu berasal dari hati yang jahat dan tidak pantas bagi anak Tuhan. Kita harus menyingkirkannya.
Namun, tidak cukup hanya menjauhi dosa. Jika kita ingin memulihkan gambar ilahi dalam diri kita, Kolose 3:12 mengatakan bahwa kita juga harus mengenakan karakter ilahi: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, saling mengampuni, dan kasih. Inilah karakter ilahi yang harus kita kejar.
Nah, semua karakter ilahi ini tidak dapat dijalankan dalam keterasingan. Saudara tidak bisa mengasihi atau mengampuni jika hidup sendiri. Tanpa orang lain untuk dikasihi dan diampuni, saudara tidak akan bertumbuh dalam kasih maupun pengampunan.
Gambar ilahi dan karakter ilahi kita harus dinyatakan dan dikembangkan di dalam relasi, bukan dalam keterasingan. Tahukah saudara relasi terbaik untuk menumbuhkan karakter ilahi kita? Ya, pernikahan. Mengapa? Karena pasangan hidup adalah orang yang paling dekat dengan kita.
Kita hidup bersama pasangan kita setiap hari. Ini adalah kebalikan dari keterasingan. Di sinilah karakter ilahi benar-benar dapat dinyatakan dan bertumbuh.
Sangat mudah untuk bersikap baik dan ramah kepada seseorang yang hanya saudara temui beberapa jam dalam seminggu. Mudah untuk datang ke gereja selama dua jam dan menunjukkan hati yang baik, tetapi itu tidak membuktikan banyak hal.
Yang benar-benar penting adalah bagaimana saudara memperlakukan pasangan hidup yang tinggal bersama saudara setiap hari. Itulah ujian sejati dari karakter ilahi.
Pernikahan tidak seperti relasi lainnya di dunia. Ini adalah relasi yang paling dekat yang akan saudara miliki. Tuhan mengatakan bahwa suami dan istri menjadi satu, baik secara hati maupun secara fisik.
Anak-anak lahir melalui kesatuan hati dan fisik ini. Suami dan istri harus berbagi segala sesuatu dalam pernikahan: berbagi anak, berbagi rumah, berbagi tempat tidur, berbagi makanan, berbagi rekening, bahkan berbagi kata sandi ponsel. Berbagi segala sesuatu.
Aspek paling utama di mana karakter ilahi kita dapat dinyatakan dan bertumbuh adalah dalam pernikahan.
Tujuan utama pernikahan bukanlah untuk membuat kita bahagia, melainkan untuk membuat kita kudus, yaitu memulihkan gambar ilahi kita. Tentu saja, harus ada sukacita dalam pernikahan, tetapi itu bukan tujuan utamanya.
Jika sukacita adalah tujuan utama saudara, maka ketika pernikahan menjadi sulit, saudara akan cenderung bercerai. Namun jika karakter ilahi dan kekudusan adalah tujuan utama saudara, maka sekalipun ada masa-masa sulit dan harapan yang tidak terpenuhi, saudara tidak akan bercerai.
Saudara akan bertekun dalam kesulitan dan berusaha menyelesaikan masalah dalam pernikahan dengan karakter seperti Kristus demi menyenangkan hati Tuhan.
Peran Istri
Di dalam pernikahan, Tuhan telah memberikan peran dan perintah bagi suami dan istri. Mari kita melihat perintah Tuhan bagi istri, dan kemudian nanti bagi suami.
Dalam Kolose 3:18, Tuhan memerintahkan istri untuk tunduk kepada suaminya, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Istri dipanggil untuk tunduk hanya kepada suaminya, bukan kepada semua pria.
Agar seorang istri dapat menyenangkan Tuhan, ia harus tunduk kepada suaminya. Tunduk berarti menempatkan diri di bawah otoritas orang lain. Ketundukan ini adalah ketundukan yang penuh kasih—ditandai dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.
Ini sesuai dengan rancangan Tuhan bagi istri dalam Kejadian 2:18. Tuhan menciptakan Hawa sebagai penolong bagi Adam untuk menggenapi rancangan Tuhan bagi umat manusia: beranak cucu dan mengelola bumi sesuai kehendak-Nya. Istri adalah rekan hidup bagi suami.
Saya tahu kata “tunduk” akan menyinggung dunia, bahkan orang percaya. Namun inilah cara istri bertumbuh dalam karakter ilahi, khususnya kasih dan kerendahan hati.
Kepala keluarga adalah suami, dan istri dipanggil untuk tunduk kepada suami. Struktur otoritas dalam keluarga mencerminkan struktur otoritas ilahi dalam Tritunggal. Ada tiga Pribadi dalam satu hakikat ilahi.
Setiap Pribadi setara dalam esensi ilahi; tidak ada yang kurang ilahi atau lebih rendah dari yang lain. Namun di dalam Tritunggal terdapat struktur otoritas yang berbeda. Dalam 1 Korintus 11:3 dikatakan bahwa Tuhan Bapa adalah kepala dari Kristus, demikian juga kepala dari istri adalah suami.
Suami tidak lebih unggul atau lebih “manusia” daripada istri, tetapi ia telah diberikan otoritas dalam keluarga. Istri dapat mencerminkan karakter Kristus dengan menundukkan diri kepada suami, sama seperti Yesus tunduk kepada Tuhan Bapa.
Struktur otoritas keluarga mencerminkan struktur otoritas dalam Tritunggal. Melanggar struktur ini akan merusak gambar ilahi kita dan membawa konsekuensi serius bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.
Di Amerika, perbedaan peran antara suami dan istri semakin dihapuskan, sehingga terjadi kekacauan. Banyak wanita berpikir mereka dapat melakukan semua hal yang dilakukan pria, bahkan menjadi jenderal atau pemadam kebakaran, meskipun secara fisik tidak sekuat pria.
Bahkan ada yang berpikir pria bisa menjadi wanita dan wanita bisa menjadi pria. Ini menunjukkan kekacauan. Selalu ada konsekuensi ketika kita menolak rancangan Tuhan bagi kita.
Meskipun istri dipanggil untuk tunduk kepada suami, sebenarnya ia memiliki pengaruh yang sangat besar dan bertahan lama dalam keluarga. Anak-anak sangat dipengaruhi oleh ibu mereka karena ibu biasanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.
Nah, apakah yang dimaksud dengan ketundukan istri secara alkitabiah? Banyak orang salah memahaminya.
Ketundukan alkitabiah bukanlah ketaatan buta seperti budak yang harus menuruti setiap keinginan suami. Istri bukan diperintah seperti anak kecil atau hamba, misalnya, “Pergi kerjakan tugasmu sekarang,” atau “Masakkan makanan bagi saya.”
Pernikahan jauh lebih pribadi dan intim daripada itu. Pernikahan adalah kemitraan dan pengabdian timbal balik satu kepada yang lain.
Ketundukan bukanlah ketundukan buta. Istri tidak boleh tunduk jika suami memerintahkannya untuk berdosa terhadap Tuhan. Ketundukan juga bukan sesuatu yang dipaksakan. Istri harus tunduk secara sukarela, sama seperti ia tunduk kepada Tuhan dengan sukarela.
Lalu seperti apa ketundukan itu dalam pernikahan?
Ketundukan istri adalah ketundukan yang penuh karakter ilahi, yaitu dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Ketundukan dengan belas kasih dan kemurahan bersifat aktif, bukan pasif. Ini adalah pengabdian yang bijaksana kepada suami untuk menolongnya menggenapi panggilan Tuhan dalam hidupnya dan dalam keluarga.
Panggilan Tuhan bagi suami adalah mengikuti Yesus, melayani Tuhan, dan menggenapi Amanat Agung. Istri adalah rekan hidup yang bekerja bersama suami untuk menggenapi panggilan Tuhan atas suami, dirinya sendiri, dan anak-anak mereka.
Artinya, ia memiliki pendapat dan memberikan nasihat yang bijaksana untuk menolong suami. Ia berdiskusi dengan suami mengenai hal-hal penting dalam hidup, seperti bagaimana menata keluarga agar hidup mereka maksimal bagi Tuhan; bagaimana membesarkan anak-anak sesuai Alkitab; di mana menyekolahkan anak; pekerjaan atau pelayanan apa yang seharusnya dijalani suami; dan berbagai keputusan hidup lainnya demi kemuliaan Tuhan.
Istri tidak dipanggil untuk memenuhi ambisi atau keinginan egois suami, melainkan untuk menolong suami mengikuti Tuhan dan bersama-sama menggenapi Amanat Agung.
Ia harus berusaha menolong suami mengambil keputusan yang lebih baik, bukan mengontrol atau mendominasi. Ketundukan istri haruslah rendah hati. Ini berarti ia menolong suami dengan sikap hormat dan menghargai.
Ia berbicara kepada suaminya dengan penuh hormat, bukan dengan sikap merendahkan. Ia harus menghindari pola seperti meremehkan, sarkasme, atau terus-menerus mengoreksi.
Pada akhirnya, jika tidak ada isu dosa namun masih ada perbedaan pendapat dalam keputusan hidup—misalnya tentang pendidikan anak—istri perlu bersedia mengikuti keputusan suami.
Ketundukan istri juga harus penuh kelemahlembutan dan kesabaran. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Suami akan salah, dan istri juga akan salah.
Ketika suami membuat keputusan yang kurang baik, istri perlu bersabar dan tidak berkata, “Saya sudah bilang.” Sebaliknya, ia tetap menghargai peran dan usaha suami, meskipun suami tidak sempurna.
Ia perlu mendiskusikan segala sesuatu dengan sabar, sehingga suami dapat mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan.
Ini juga berarti istri mengampuni suami ketika suami berdosa dan istri perlu dengan sikap lembut menegur suami. Istri perlu sabar. Ketika suami meminta maaf istri perlu mengampuni.
Inilah cara yang Tuhan kehendaki bagi istri untuk hidup dalam pernikahan.
Peran Suami
Mari kita melihat peran suami dalam ayat 19. Tuhan memerintahkan para suami untuk mengasihi istri dan tidak berlaku pahit atau kasar terhadap mereka.
Perhatikan sesuatu yang sangat penting: tidak ada perintah bagi suami untuk memaksa istri tunduk. Perintahnya adalah mengasihi istri, bukan memaksanya tunduk. Mengapa? Karena pernikahan adalah kesatuan yang pribadi dan intim, bukan relasi orang tua dan anak.
Istri harus tunduk dengan sukarela, bukan karena paksaan—sama seperti ia tunduk kepada Kristus dengan rela dan penuh kasih, bukan dengan keterpaksaan atau kepahitan.
Ketika suami memaksa istri untuk tunduk, akan potensi kekasaran dapat terjadi. Tuhan melarang hal ini.
Suami menjalankan karakter ilahi dalam kasih dengan memimpin istri dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran—bukan dengan egois atau kejam.
Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan Kristen yang sejati adalah kepemimpinan sebagai hamba yang rendah hati, yang mencari kebaikan orang lain. Teladan utama kepemimpinan bagi suami adalah Yesus sendiri.
Dalam bagian di Efesus 5:25, yang mirip Kol. 3:19, suami diperintahkan untuk mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat.
Ini adalah kasih yang bebas dari kepahitan terhadap jemaat. Yesus tidak pernah bersikap pahit terhadap kita; Ia tidak pernah berkata, “Mengapa Aku menyelamatkan orang berdosa ini? Sekarang Aku menyesal.”
Tidak. Kasih Yesus kepada orang percaya adalah kasih yang kekal dan setia. Demikian juga kasih suami kepada istri haruslah kekal dan setia.
Lalu bagaimana suami mengasihi istri?
Dengan karakter ilahi, yaitu dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.
Apa itu belas kasihan dalam kepemimpinan?
Ini berarti ketika saudara melihat istrinya menderita, saudara menolongnya. Ketika pulang dari kantor dan melihat istri kewalahan mengurus anak-anak sekaligus mengelola rumah, saudara tidak duduk menonton TV, tetapi turun tangan menolongnya dalam kesulitannya.
Apa itu kemurahan?
Ini berarti suami memelihara dan memperhatikan kesejahteraan istri—secara rohani, emosional, dan fisik. Ini berarti suami adalah pemimpin rohani dalam rumah tangga. Ia harus mengenal firman Tuhan dengan baik dan memimpin istri serta anak dalam ibadah keluarga dan perkara-perkara rohani.
Efesus 5:26 mengatakan bahwa sebagaimana Kristus menguduskan jemaat dengan firman Tuhan, demikian juga suami harus menguduskan istri dengan firman Tuhan.
Kasih yang penuh kemurahan juga mencakup kesejahteraan emosional istri. Jika istri sedang bergumul dengan suatu masalah, suami perlu meluangkan waktu untuk berbicara dan menolongnya. Jika ia perlu pergi ke dokter, suami mengantarnya ke rumah sakit.
Kasih yang penuh kemurahan juga berarti saudara menghargai dan memelihara istri seumur hidup. Efesus 5:31 mengatakan bahwa suami telah menjadi satu daging dengan istrinya.
Saudara menghargainya seperti saudara menghargai tangan atau kaki sendiri. Saudara tidak seharusnya menceraikan istri dan mengambil istri yang lain. Tuhan membenci perceraian dan perzinahan.
Apa itu kasih yang rendah hati?
Kasih yang rendah hati berarti saudara menempatkan kebutuhan istri di atas keinginan saudara sendiri. Ini berarti menyerahkan diri untuk menolongnya demi kebaikannya, bukan menuntut hak saudara dan memaksanya tunduk.
Inilah yang Yesus lakukan bagi kita. Ia merendahkan diri-Nya dengan mengambil natur manusia dan mati bagi kita. Demikian juga, suami harus menempatkan kebutuhan istri di atas keinginannya.
Jika suatu keputusan akan sangat memengaruhi istri dan ia tidak setuju, maka suami seharusnya tidak mengambil keputusan tersebut.
Sebagai contoh, sebelum keluarga saya pindah ke Jakarta, saya mendiskusikannya dengan istri saya. Jika ia tidak mau pindah ke Jakarta, saya tidak akan pindah, meskipun saya mau, karena itu akan berdampak negatif bagi istrinya dan keluarga kami.
Kasih yang rendah hati juga berarti ketika suami berdosa atau melakukan kesalahan, ia harus meminta pengampunan kepada istrinya.
Suami yang sombong akan berpura-pura sempurna dan tidak pernah meminta maaf. Ini akan merusak pernikahan.
Walaupun kita sudah diselamatkan, kita masih akan berdosa dan melakukan kesalahan. Kita perlu meminta pengampunan kepada Tuhan dan juga kepada istrinya. Pernikahan yang tidak mempraktikkan pengampunan adalah pernikahan yang akan mati.
Apa itu kasih yang sabar?
Kasih yang sabar adalah kasih yang dengan sabar mendiskusikan dengan istri mengenai pandangannya tentang kehidupan keluarga dan berbagai persoalan.
Kasih ini tidak menyalahgunakan otoritas, tetapi meluangkan waktu untuk berdiskusi dan bersabar sehingga istri mengerti dan setuju. Tidak boleh ada paksaan.
Memaksa istri melakukan sesuatu atau mempercayai sesuatu tidak akan menolong pertumbuhan rohaninya. Jika saudara memaksa istri, mungkin ia akan menurut secara lahiriah seperti anak kecil, tetapi di dalam hatinya ia tetap memberontak.
Suami perlu bersabar dan berdiskusi dengan istri sebelum mengambil keputusan yang akan memengaruhinya.
Kasih seorang suami dirancang untuk menolong istri menjadi semakin serupa Kristus. Kasih itu bukan untuk memanjakannya sehingga ia semakin berdosa.
Jika ada dosa dalam hidup istri, suami harus menunjukkannya dengan kasih dan kesabaran.
Masih banyak hal yang Alkitab ajarkan tentang peran suami dan istri, tetapi waktunya tidak cukup untuk membahas semuanya. Karena itu, saya menyarankan saudara membaca buku karya John MacArthur, Keluarga Yang Mengikuti Kehendak Tuhan. Itu adalah buku yang sangat baik.
Jika suami dan istri menaati perintah Tuhan dalam pernikahan, maka pernikahan itu akan menyenangkan hati Tuhan. Saudara akan memulihkan gambar ilahi saudara, dan pernikahan saudara akan menjadi penuh makna dan sukacita.
Bagaimana jika saudara belum menikah?
Sederhana: saudara dapat menunjukkan karakter ilahi kepada siapa pun yang paling dekat dengan saudara dan yang paling sering bersama saudara.
Jika saudara seorang pelajar, tunjukkan karakter ilahi kepada teman-teman dan teman sekamar saudara. Jika saudara bekerja, tunjukkan karakter ilahi kepada rekan kerja saudara.
Saudara dapat mempersiapkan diri untuk pernikahan dengan membentuk karakter ilahi saudara sebaik mungkin sejak sekarang. Selain itu, saudara juga perlu mengetahui seperti apa pasangan hidup yang Tuhan kehendaki untuk saudara cari.
Kesimpulan
Saya ingin memberikan satu kisah nyata tentang bagaimana sebuah pernikahan dipulihkan melalui ketaatan pada rancangan Tuhan. Saya tidak dapat menggunakan nama asli mereka demi menjaga privasi.
Suami dan istri ini sama-sama orang Kristen ketika mereka menikah. Namun mereka tidak pernah benar-benar menjadi satu. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Mereka lebih seperti teman serumah daripada suami istri.
Istri memiliki kariernya sendiri, dan suami juga demikian. Fokus mereka adalah mencari uang, dan mereka mengabaikan relasi mereka dengan Tuhan serta satu sama lain.
Seiring waktu, mereka semakin menjauh. Suatu hari, suami berzina. Istri mengetahui hal itu dan membalas dengan berzina juga. Pernikahan mereka hancur dan berada di ambang perceraian.
Namun, oleh anugerah Tuhan, masing-masing dari mereka mencari pertolongan dari orang-orang percaya lain di gereja dan menerima konseling Alkitabiah.
Mereka diingatkan kembali akan tujuan Tuhan bagi pernikahan—yaitu untuk hidup kudus dan menjadi semakin serupa Kristus.
Prosesnya tidak instan; membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi melalui konseling dan komunitas gereja yang penuh kasih, mereka saling mengampuni dan tidak bercerai.
Mereka juga mulai meluangkan lebih banyak waktu mendalami Firman Tuhan, bersekutu dengan orang percaya lain dalam kelompok pemahaman Alkitab, dan membangun kembali relasi mereka sebagai suami istri.
Hasilnya, pernikahan mereka bukan hanya didamaikan, tetapi juga bertumbuh dengan subur. Sekarang mereka bahkan menolong pasangan lain yang sedang mengalami masalah pernikahan.
Ini hanyalah satu contoh. Saya mengenal banyak pernikahan lain yang mengalami hal serupa.
Jika kita mengikuti rancangan Tuhan bagi pernikahan, maka pernikahan kita akan menyenangkan hati-Nya, menolong kita bertumbuh dalam karakter dan gambar ilahi, sementara juga memberikan sukacita yang besar.
Pengkhotbah: Ps. John Zheng



