Sikap Orang Percaya Di Tengah Dunia

Khotbah Ekpsosisi Kolose 4:2-6

2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.

3 Berdoalah juga untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.

4 Dengan demikian, aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.

5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.

6 hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

 

Ada dua sikap penting kehidupan orang percaya di tengah dunia ini yang perlu diperhatikan:

  1. Dalam Hubungannya dengan Tuhan (ay.2-4)

Menurut teolog dan pendeta John MacArthur, hubungan kita dengan Tuhan adalah inti dan jiwa dari seluruh kekristenan. Hubungan ini bersifat mendasar karena manusia diciptakan oleh Allah, untuk memuliakan Allah dan menikmati persekutuan dengan Allah selama-lamanya.

Saudara harus ingat, meskipun saudara sudah percaya Kristus dan sudah diselamatkan maka saudara harus terus memiliki hubungan dengan Tuhan senantiasa yang tak putus. Ada satu ruang dalam kehidupan kita yang tidak bisa diisi oleh hal yang lain kecuali oleh Tuhan sendiri.

Yesus menggambarkan hubungan kita dengan-Nya harus seperti “Pokok Anggur dan Carangnya” Yesuslah pokok dan kitalah carang-carangnya.  Kalau kita mau hidup sehat, bertumbuh dan berbuah selama kita hidup maka kita harus menempel dengan Dia. Diluar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Mari kita evaluasi hubungan kita dengan Tuhan selama ini apakah kita betul menempel dengan Dia atau di luar Dia?

Karena pentingnya hubungan kita dengan Tuhan, maka Yesus datang ke dunia dan mati bagi kita di kayu salib agar kita yang tadinya terpisah dengan Allah sekarang mengalami hubungan yang harmonis/dipulihkan Kembali.

Keselamatan di dalam Yesus satu sisi membawa kita memiliki jaminan hidup yang kekal tetapi sisi lain membawa kita ke dalam persekutuan sejati (fellowship) dengan Bapa dan Anak (Yesus Kristus), di mana kita berbagi kehidupan dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya.

a. Bertekun dalam Doa (ay 2a) .

Bertekunlah artinya tetap bertahan di dalam-Nya, menyibukkan diri dengan; berhubungan karib; melayani secara pribadi; menghabiskan banyak waktu, senantiasa.

“Berdoalah tanpa henti.” — 1 Tes 5:17. Saat kita senang dan saat kita susah. Saat ada pergumulan dan tidak ada pergumulan tetaplah bertekun, memiliki hubungan karib dengan Tuhan, melayani-Nya dengan setia dan menghabiskan waktu dengan-Nya.

Kita berdoa karena ada tangan dan otoritas yang lebih besar melampaui tangan dan kekuatan kita. Kita berdoa karena Allahlah yangmengatur dan memegang kehidupan kita bahkan yang memegang langit dan bumi ini.

Banyak yang tidak bisa kita selesaikan dengan kekuatan kita; masalah, sakit penyakit, tantangan, pekerjaan, pelayanan, keluarga, bahkan hal-hal yang kita tidak tahu ke depan harus kita doakan. Rencana, pergumulan dan kekuatan.  Bicaralah kepada Tuhan sebelum kita berbicara kepada manusia. Apakah saudara bertekun dalam doa?

Kita berdoa karena kita memerlukan hubungan dengan-Nya.  Hubungan ini adalah hubungan yang paling penting dan istimewa. Yesus mengajarkan murid-murid untuk berdoa bahkan meminta murid-murid berdoa saat pergumulan di taman getsemani. Meskipun engkau adalah murid terbaik dan terdekat dengan-Nya Anda harus tetap berdoa.

Berdoa apakah hal yang mudah dan kita butuhkan. Melalui berdoa kita terhubung dengan pencipta kita. Ini sebenarnya hal yang mudah tetapi realitanya banyak orang Kristen sulit untuk diajak berdoa. Persekutuan Doa kebanyakan dihadiri kaum wanita dan sepi laki-laki berdoa. Apakah doa tugas wanita saja? Tidak! Ini hal yang penting bagi semua orang percaya.  Yesus di taman getsemani meminta murid-muridnya berdoa tetapi apa yang mereka lakukan? Mereka begitu ngantuk, tertidur, tidak sanggup berjaga-jaga. Tapi waktu nonton bioskop, nonton bola dan nonton dracin CEO yang menyamar kuat berjam-jam dan ber-episode. Kenapa? Karena daging lemah!

Doa bukan hanya milik seorang pendeta atau penatua/majelis jemaat, tetapi milik semua umat Tuhan. Tekunlah dalam doa agar kita menjadi orang yang kuat dan iman kita kokoh.

b. Hidup Berjaga-jaga (ay. 2b)

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.“ Matius 26:41

Berjaga-jagalah artinya tetap waspada dan tetap terbangun. Seperti seorang pengawal atau penjaga, ia harus tetap terjaga dan terbangun, waspada, berjaga-jaga kalau-kalau ada serangan musuh. Ia tidak boleh lengah atau tertidur tetapi  ia harus mengawasi situasi dan berjaga-jaga.  Perumpaan tentang 5 gadis bodoh dan 5 gadis yang bijaksana, memberitahukan kepada kita bahwa kita harus berjaga-jaga agar lampu dan minyak tersedia, jangan sampai padam dan habis minyaknya.

Yesus menyampaikan pesan kepada para murid-Nya di Taman Getsemani agar mereka tetap waspada dan mengandalkan Tuhan dalam menghadapi berbagai godaan, bukan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Makin banyak masalah makin banyak berdoa, makin malas berdoa makin harus dipaksa berdoa.

Orang Kristen yang tidak terjaga atau berjaga-jaga mudah sekali diserang dan jatuh dalam pencobaan. Ingat roh memang penurut tetapi daging lemah.

Setiap godaan memperhadapkan seseorang pada memilih kehendak diri atau kehendak Tuhan. Yesus berkata, Ketika dicobai di getsemani, “Bapa kalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Lukas 22:42

Kita harus sadar bahwa godaan bisa datang pada siapa pun; tidak ada seorang pun dari kita yang kebal terhadap godaan, kecuali kuncinya berpegang pada Tuhan dalam doa kita.

Selama kita hidup, kita harus terus berjaga-jaga. Banyak anak-anak Tuhan yang jatuh bukan karena mereka tidak hebat, tidak saleh dan tidak rajin beribadah, tidak berdoa dan melayani, tetapi karena mereka tidak berjaga-jaga akhirnya keinginan daging mereka menyeret mereka untuk keluar dan jatuh.

c. Hati yang mengucap syukur (ay. 2c)

Hati yang mengucap syukur adalah hati yang berterima kasih atas segala kebaikan Tuhan. Rasa syukur memenuhi hatinya sehingga ia tidak melupakan segala kebaikan Tuhan.

Rasa syukur membuat seseorang penuh sukacita yang limpah dan penuh rasa hormat kepada Tuhan. Ia tidak kecewa dan marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi dengan hidupnya.

Mengapa banyak orang kecewa dan tidak lagi percaya kepada Tuhan karena tidak ada rasa syukur dalam dirinya.  Hidupnya begitu kering, ia tidak bisa merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidupnya.

Orang yang tidak bisa mengucap syukur adalah orang yang tidak pernah melihat dan menghitung kasih dan kebaikan dari Tuhan dalam hidupnya.  Atau orang yang tidak pernah puas, mereka selalu curiga, menuntut agar Tuhan memenuhi apa yang mereka inginkan.

Paulus memberitahukan kepada Jemaat Kolose agar mereka berakar, dibangun dan bertambah teguh dalam iman selain itu hati mereka harus limpah dengan ucapan syukur.

Kolose 2:7: “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.“

Di dalam gereja kita harus belajar mengucap syukur kepada Tuhan. Kita harus bersyukur untuk nafas hidup, untuk berkat yang kita terima, bersyukur untuk keluarga kita, untuk gereja kita bahkan bersyukur untuk firman serta untuk Kristus yang menyelamatkan kita.

Terlalu banyak yang dapat kita ucapkan syukur kepada Tuhan, Hitunglah berkatmu maka kamu akan terpesona, bersyukur kepada-Nya dan melihat banyak karya-Nya yang indah dalam hidupmu.

Jangan terus mengeluh-mengeluh dan merasa kurang dan kurang, bersyukurlah.

d. Berdoa untuk Pemberita dan Pemberitaan Injil (ay. 3-4).

Pertama-tama orang percaya harus berpegang pada Injil sejati dan memahami apa arti Injil dalam hidupnya terlebih dahulu. Lalu memegang injil dengan setia dan menghidupinya.  Kemudian mengerti mengapa Injil harus diberitakan kepada orang-orang percaya dan orang-orang berdosa. Orang yang tidak mengerti injil tidak akan mencintai Injil. Orang yang tidak mencintai Injil akan menyia-nyiakan Injil. Orang yang menyia-nyiakan Injil tidak peduli dengan orang yang belum mendengar Injil.

Kedua orang percaya harus berdoa bagi para penginjil. Banyak orang percaya hanya berdoa bagi diri mereka sendiri; makan minum, pakaian, rumah, mobil dll semua hanya untuk dirinya semata dan doa semacam itu adalah doa yang egois. Maka Paulus meminta orang percaya berdoa untuk para pemberita Injil dan bagi berita Injil yang mereka sampaikan.

Apakah saudara pernah berdoa bagi pemberita Injil? Hal ini sangat penting. Berita injil penting maka Yesus mengutus murid-murid untuk memberitakan injil, dan Paulus juga menganggap injil itu penting karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan maka dia pun memberitakan injil.

Apakah injil dapat tersebar dengan sendirinya tanpa pemberitanya? tentu tidak, maka sang pemberita pun penting juga.  Yesus berkata ladang sedang menguning dan siap untuk dituai. Yoh 4:35

Jadi Allah memakai pemberita dan berita injil untuk menyelamatkan manusia.

Ketiga kita harus berdoa bagi Injil yang diberitakan. Paulus ingin Ketika dia berbicara secara tepat dan benar tentang rahasia Kristus sehingga tersingkapkan dan orang-orang dapat mengerti dan dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.

Paulus tidak mau sembarangan dalam memberitakan Injil, ia memerlukan doa-doa dari jemaat Tuhan. Ini suatu kerendahan hati. Ia tidak mau memakai hikmat dan logika manusia semata.

Berita Injil itu bukan tentang kita atau kehebatan manusia tetapi tentang Allah dan anugerah-Nya bagi manusia yang berdosa.

Paulus sadar bahwa pemberitaan injil mengandung resiko dan membuatnya dipenjara tetapi dia tidak mau lalai, dia tidak mau menolak tugas penting ini. Sebab injil dibutuhkan orang banyak orang berdosa agar mereka menerima anugerah Allah.

Mengenai hal tersebut Alkitab berkata:

Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.  Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”  Roma 10:13-15 (TB).

Pengkhotbah Pdt. Nikodemus Rindin

Author admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *